Giliran Iran Kecam Pengakuan Australia atas Yerusalem

Rabu, 19/12/2018 20:01 WIB

Tehran - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Bahram Qasemi mengatakan keputusan Australia mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel merupakan pelanggaran terhadap resolusi internasional.

Qasemi menggambarkan langkah yang diusulkan Negeri Kanguru sebagai keputusan yang keliru dan salah perhitungan.

"Jika dilaksanakan, keputusan itu akan dilihat sebagai pelanggaran terhadap semua resolusi internasional yang terkait dengan Palestina dan wilayah yang diduduki Israel," terang Qasemi kepada Kantor Berita Iran, Azad Rabu (19/12).

"Langkah seperti itu tidak akan membantu menyelesaikan masalah Palestina dan Timur Tengah. Itu hanya akan meningkatkan ketegangan di kawasan tersebut," tambahnya.

Pada Sabtu (15/12), Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengumumkan keputusan negaranya untuk secara resmi mengakui Yerusalem Barat sebagai ibu kota Israel.

Ia menegaskan, bagaimanapun, Australia tidak akan merelokasi kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem Barat sampai perdamaian Palestina-Israel tercapai.

Pada November, Presiden terpilih Brazil Jair Bolsonaro juga mengumumkan niatnya untuk memindahkan kedutaan negaranya dari Tel Aviv ke Yerusalem sesuai dengan janji kampanyenya.

Namun, beberapa hari kemudian, Bolsonaro mengatakan bahwa keputusan akhir tentang masalah itu belum ditentukan.

Akhir tahun lalu, Presiden AS Donald Trump menjadi pemimpin pertama yang mengumumkan niat negaranya untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, memicu kecaman dan protes dari seluruh dunia Arab dan Muslim.

TERKINI
Polda Metro Pastikan Proses Hukum Berjalan Terkait Fahd El Fouz A Rafiq Li Claudia Chandra, Wajah Pemimpin Perempuan Inovatif di KWP Awards 2026 Mendikdasmen Salurkan 1.577 IFP untuk Ribuan Sekolah di Sidoarjo Bambang Patijaya Sabet Penghargaan Pimpinan Fokus Transisi Energi