Selasa, 16/06/2026 08:26 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Bulan Muharram dikenal sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah dan menjadi penanda datangnya Tahun Baru Islam. Namun, bagi masyarakat Jawa, bulan ini lebih akrab disebut sebagai bulan Suro. Meski merujuk pada waktu yang sama, istilah Suro memiliki latar belakang sejarah dan budaya yang khas.
Muharram memiliki makna penting bagi umat Islam karena berkaitan dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Selain menjadi awal tahun dalam kalender Islam, Muharram juga termasuk salah satu bulan suci yang dimuliakan dalam ajaran Islam.
Lalu, mengapa Muharram disebut Suro di Jawa? Simak ulasan berikut ini yang dihimpun dari berbagai sumber.
Dikutip dari laman UIN Malang, nama Suro berasal dari kata Arab Asyura, yang berarti hari kesepuluh dalam bulan Muharram. Seiring masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara, istilah tersebut mengalami penyesuaian dalam bahasa dan budaya lokal hingga kemudian dikenal sebagai Suro.
Tujuh Peristiwa Penting di Bulan Muharram dalam Sejarah Islam
Berbagai Tradisi di Banten saat Bulan Muharram
30 Ucapan Selamat Tahun Baru Islam dalam Bahasa Jawa yang Penuh Makna
Akulturasi budaya Islam dan Jawa menjadi faktor utama lahirnya istilah tersebut. Nama Suro tidak hanya digunakan sebagai penyebutan bulan Muharram, tetapi juga berkembang menjadi bagian penting dalam sistem penanggalan Jawa.
Perkembangan itu semakin kuat setelah Sultan Agung dari Mataram melakukan reformasi kalender pada abad ke-17. Sultan Agung menggabungkan sistem kalender Islam dengan sistem penanggalan Jawa tradisional sehingga lahirlah kalender Jawa yang dikenal luas hingga sekarang.
Dalam kalender tersebut, bulan Suro ditempatkan sebagai bulan pertama, sama seperti posisi Muharram dalam kalender Hijriah. Karena itu, Muharram dan Suro pada dasarnya merujuk pada periode waktu yang sama, hanya berbeda dalam penyebutan dan pemaknaan budaya.
Bagi umat Islam, Muharram merupakan bulan yang sarat nilai spiritual. Berbagai peristiwa penting diyakini terjadi pada bulan ini, seperti keselamatan Nabi Musa AS dari kejaran Firaun, diterimanya tobat Nabi Adam AS, serta keselamatan Nabi Nuh AS dari banjir besar.
Karena keutamaannya, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah dan amal saleh selama bulan Muharram. Momentum Tahun Baru Islam juga dimaknai sebagai waktu untuk introspeksi, memperbaiki diri, dan meningkatkan kualitas kehidupan spiritual maupun sosial.
Sementara itu, masyarakat Jawa memiliki cara pandang yang berbeda terhadap bulan Suro. Bulan ini sering dianggap sebagai bulan sakral yang penuh makna simbolik dan spiritual. Berbagai tradisi khas pun masih dijalankan oleh sebagian masyarakat, terutama pada malam satu Suro.
Beberapa tradisi yang dikenal antara lain tapa bisu, kirab pusaka, mencuci keris dan benda pusaka, hingga ritual larung kepala kerbau ke laut. Tidak sedikit pula masyarakat yang menghindari menggelar hajatan atau pernikahan pada bulan Suro karena diyakini dapat mendatangkan kesialan.
Kepercayaan tersebut berkembang dari pandangan bahwa bulan Suro merupakan waktu yang istimewa untuk melakukan perenungan dan pembersihan diri. Dalam tradisi Jawa, malam satu Suro sering dimaknai sebagai momentum mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus melakukan refleksi batin.
Meski demikian, para ulama mengingatkan agar masyarakat tidak mencampuradukkan nilai spiritual dengan keyakinan mistis yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Esensi Muharram maupun Suro sejatinya adalah momentum untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan.
Dengan demikian, Muharram dan Suro pada dasarnya adalah bulan yang sama dalam hitungan waktu. Perbedaannya terletak pada cara memaknai dan tradisi yang berkembang di masyarakat. Jika dalam Islam Muharram identik dengan peningkatan ibadah dan spiritualitas, maka dalam budaya Jawa bulan Suro lebih banyak diwarnai tradisi refleksi, kontemplasi, dan berbagai ritual budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. (*)