Rabu, 19/12/2018 19:45 WIB
New York – Para pekerja media harus mulai berhati-hati dalam menunaikan tugasnya. Pasalnya, sepanjang 2018 jumlah jurnalis yang menjadi target pembunuhan semakin meningkat. Padahal risiko perang dan konflik makin menurun.
Demikian disampaikan oleh Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) yang berbasis di New York, Amerika Serikat pada Rabu (19/12). Menurut laporan, dari total 53 jurnalis yang terbunuh, 34 di antaranya memang ditargetkan untuk dibunuh.
“Jumlah jurnalis yang menjadi sasaran pembunuhan sebagai pembalasan atas pemberitaan mereka hampir berlipat ganda pada 2018 dibanding tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa jumlah jurnalis terbunuh makin meningkat,” ujar laporan CPJ.
Dilansir dari AFP, laporan ini menggemakan keprihatinan publik. Pekan lalu, laporan serupa dari Reporters Without Borders menyebut, total terdapat 80 jurnalis tewas sepanjang 2018.
Korut Tembakkan Rudal Balistik, Ketegangan Regional Meningkat
Zelensky Geram Trump Longgarkan Sanksi Minyak Rusia
Tersandung Skandal Dubes, Jajaran Kabinet Kompak Dukung PM Inggris
Adapun yang terbaru ialah kasus terbunuhnya kolumnis Washington Post, Jamal Khashoggi. Jurnalis Arab Saudi itu tewas sesaat setelah memasuki Konsulat Saudi di Istanbul, Turki pada awal Oktober lalu.
Hingga kini, otak pembunuhan Khashoggi belum ditemukan. Namun CIA berkali-kali menyatakan bahwa Putra Mahkota Mohammed bin Salman memerintahkan kejahatan tersebut.
“Di Afganistan, para ekstrimis sengaja meningkatkan serangan secara sengaja kepada jurnalis. Negara ini menyumbang kematian terbanyak,” kata CPJ.
Keyword : Pembunuhan Jurnalis Wartawan Tewas