Senin, 08/10/2018 19:40 WIB
Jakarta - Penasihat Negara Myanmar, Aung San Suu Kyi menilai bahwa perdamaian dan stabilitas di negaranya diperlukan untuk menarik investasi asing.
San Suu Kyi melihat penurunan tajam dari investor asing karena kegagalannya berbicara setelah penumpasan brutal militer terhadap minoritas Rohingya Myanmar.
"Saya siap untuk mengakui bahwa kami memiliki tantangan yang harus dihadapi khususnya berkaitan dengan Rakhine dan dengan perjuangan yang kami miliki di front perdamaian," kata Aung San Suu Kyi dilansir GBTimes.
"Kami memahami bahwa perdamaian, rekonsiliasi, harmonisasi, stabilitas, supremasi hukum, hak asasi manusia, semua ini harus dipertimbangkan ketika kami mencari lebih banyak investasi, untuk peluang ekonomi yang lebih besar," tambahnya.
10 Istilah Dolar yang Perlu Diketahui Investor Pemula
Anggaran 2026 Terbatas, Komisi V Minta Kemenhub Gandeng Investor Swasta
Luhut Minta Maaf ke Investor, Sebut Defisit RI Tetap di Bawah 3 Persen
"Kami tidak menyembunyikan fakta ini dari teman-teman kami," lanjutnya.
Untuk itu, ia berjanji untuk meningkatkan transparansi atas penanganan pemerintahnya terhadap krisis Rohingya agar kembali menarik investasi asing di Myanmar.
"Kami ingin menjadi sangat terbuka dan transparan kepada teman-teman kami," katanya. "Jika Anda memiliki kekhawatiran, tolong diskusikan ini secara terbuka dengan kami."
Kampanye militer brutal yang dimulai tahun lalu mendorong lebih dari 700.000 Muslim Rohingya dari Myanmar ke negara tetangga Bangladesh, di mana mereka sekarang tinggal di kamp-kamp pengungsi yang sempit dan takut akan kembali meskipun ada kesepakatan repatriasi.
Pada Selasa (09/10) besok, mantan peraih nobel perdamaian itu akan mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, yang memimpin pertemuan puncak regional yang menarik para pemimpin Asia Tenggara.