OIE Akui Sistem Kesehatan Indonesia Terbaik Asia

Selasa, 18/09/2018 21:15 WIB

Jakarta -  Badan Kesehatan Dunia (OIE)  mengakui sistem Informasi Kesehatan Hewan Indonesia (iSIKHNAS) sebagai salah satu sistem informasi kesehatan hewan terbaik di Asia dan berpotensi untuk dapat dikembangkan di negara lain.

Begitu kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Diarmita, pada acara pertemuan akhir Komite Koordinasi Program (PCC) AIPEID di Ruang Rapat Utama I Ditjen PKH, di Jakarta, Selasa (18/9).

Menurut I Ketut, pada awal bulan Oktober tahun ini  iSIKHNAS akan dipaparkan oleh staf Ditjen PKH di OIE. Selanjutnya OIE melalui CIRAD (Lembaga Penelitian di Perancis) akan melakukan penilaian dampak iSIKHNAS terhadap sektor peternakan dan kesehatan di Indonesia.

"Melalui iSIKHNAS laporan cepat (early report) atau early detection (deteksi awal) dapat berjalan dengan baik, sehingga pemerintah dapat bergerak cepat untuk mengambil keputusan atau langkah-langkah aksi dalam pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan,  sehingga jangan sampai terjadi outbreak penyakit," terang I Ketut.

Lebih lanjut, I Ketut mengatakan, penguatan sistem pelayanan kesehatan hewan nasional dinilai sangat penting, terutama sebagai upaya dalam menghadapi ancaman masuknya penyakit hewan menular yang baru muncul yang sangat berpotensi menghancurkan dunia peternakan.

"Hal ini telah menjadi  prioritas pemerintah Republik Indonesia untuk mengendalikan penyakit, serta meningkatkan produksi ternak domestik untuk memastikan keamanan pangan dan menstabilkan harga pasar untuk produk ternak," ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, I Ketut juga meminta mejelaskan, bila terjadi outbreak suatu penyakit di wilayah di Indonesia, tentunya akan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah, untuk itu pelaksanakaan kinerja iSIKHNAS harus terus dipelihara dan dimonitoring dengan baik.

Menurutnya, dalam pengelolaan iSIKHNAS harus terus diperhatikan teknis pengelolaan sistem untuk memperkuat dan meningkatkan kapasitas SDM.

"Pengelola iSIKHNAS harus dapat bekerja secara profesional dan mandiri serta mampu melaksanakan penyeliaan teknis lainnya karena  iSIKHNAS tidak hanya mencakup informasi penyakit hewan namun juga berbagai informasi terkait produksi ternak, pemotongan hewan, distribusi N2Cair dan straw serta ketersediaan pakan untuk hewan," ujar I Ketut.

Sekedar diketahui, pertemuan PCC ini merupakan pertemuan tertinggi dalam sistem tata-kelola AIPEID yang dipimpin oleh Ketua Bersama dari perwakilan Pemerintah Indonesia dan Perwakilan Pemrintah Australia.

Dari pihak Indonesia dipimpin oleh Dirjen PKH dan dari perwakilan Pemerintah Australia dipimpin oleh Tim Chapman (First Assistant Secretary, Animal Biosecurity, Department of Agriculture and Water Resources, Australia), serta dihadiri pihak-pihak yang terlibat dalam kemitraan.

TERKINI
Kemdikdasmen Dorong Pemberdayaan Perempuan Tingkatkan Literasi Nasional Cara Daftar Penjaringan Data Guru Belum Bersertifikat Pendidik 2026 TKA SD Hari Kedua di Bantul Lancar, Diikuti 12.663 Peserta Kemdikdasmen Resmikan Revitalisasi Satuan Pendidikan se-Provinsi Sultra