Selasa, 11/09/2018 13:57 WIB
Tehran - Kepala Dewan Strategi Politik Luar Negeri Iran, Kamal Kharrazi mengatakan, sebagian besar negara di dunia menentang kebijakan anti-Iran yang tunggangi Amerika Serikat (AS).
Demikian disampaikan pada pertemuan kebijakan luar negeri Iran yang diadakan di Beijing International Studies University Senin malam (10/9). Menurutnya, AS mengikuti "nafsunya" melalui kekuatan, penindasan dan ancaman.
KPK Usut Aliran Uang Suap Pengurusan Sengketa Lahan di PN Depok
Iran dan Pakistan Bertemu Bahas Proposal Perdamaian Perang
KPK Dalami Aliran Fee Proyek DJKA ke Pejabat Kemenhub
"Kebijakan Iran adalah untuk mendekati negara-negara lain terutama Rusia, Cina, India dan Eropa terhadap kebijakan AS," katanya dilansir dari IRNA, Selasa (11/9).
Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Yukiya Amano dalam sebuah pernyataan pada Senin mengumumkan bahwa Iran telah memenuhi komitmennya di bawah JCPOA.
"Iran tetap komitmen di bawah Rencana Aksi Komprehensif Gabungan. Sangat penting bahwa Iran terus sepenuhnya melaksanakan komitmen tersebut," kata pernyataan itu.
AS tidak hanya meninggalkan kesepakatan Iran tetapi memaksa negara lain untuk bergabung dengan Gedung Putih menekan Iran dengan menjatuhkan sanksi tambahan, kata Kharrazi.
Setelah keluarnya Washington 8 Mei dari Kesepakatan Iran yang bersejarah, AS memberikan 90 hingga 180 hari kepada negara Eropa untuk membongkar kesepakatan nuklir sebelum diberlakukan kembali sanksi minyak terhadap Teheran pada 4 November.
Sanki AS mulai berlaku pada 9 Agustus. Trump juga akan mengembalikan sanksi nuklir AS ke Iran dan menerapkan "tingkat tertinggi" larangan ekonomi terhadap Republik Islam.
Keyword : Iran Amerika Serikat kesepatan nuklir Uni Eropa