Kamis, 30/08/2018 07:35 WIB
Teheran – Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Khamanei mengancam bahwa negara tersebut akan keluar dari pakta nuklir 2015, jika sudah tak lagi melayani kepentingan nasionalnya, menyusul tekanan ekonomi dan politik di dalam negeri.
"Tentu saja, jika kami mencapai kesimpulan bahwa (kesepakatan nuklir) tidak lagi mempertahankan kepentingan nasional, maka kami akan mengesampingkannya," kata Khamenei dalam pertemuan dengan kabinet.
Dilansir dari AFP, Khamanei melarang Iran bergantung pada Uni Eropa pasca penarikan diri Amerika Serikat dari pakta nuklir pada Mei lalu.
Sebagai solusinya, dia meminta para pejabat bekerja keras siang dan malam untuk menyelesaikan masalah ekonomi negara, menyusul diberlakukannya kembali sanksi AS.
KPK Usut Aliran Uang Suap Pengurusan Sengketa Lahan di PN Depok
Iran dan Pakistan Bertemu Bahas Proposal Perdamaian Perang
Trump Janji Kirimkan 5.000 Pasukan Tambahan ke Polandia
Sementara kabinet Presiden Hassan Rouhani sedang bergejolak. Menteri Tenaga Kerja dan Ekonomi telah dimakzulkan oleh parlemen bulan ini, akibat lima masalah ekonomi yang tak terselesaikan. Menteri Pendidikan Iran juga ditargetkan akan dipecat dalam beberapa hari mendatang.
Seperti diketahui, mata uang Iran telah kehilangan sekitar setengah nilainya sejak AS mengumumkan mundur dari kesepakatan nuklir. Sanksi terhadap minyak Iran juga akan diberlakukan kembali pada November nanti.
Dalam kritiknya, parlemen memandang Menteri Industri, Pertambangan dan Bisnis Mohammad Shariatmadari, gagal mencegah inflasi tinggi, khususnya di industri mobil.
Sebuah mosi juga diajukan pada Rabu untuk memberikan suara pada Menteri Pendidikan Mohammad Bathaei, atas serangkaian masalah yang terkait dengan anggaran sekolah, kurikulum dan dugaan salah urus.
Keyword : Iran Nuklir Amerika Serikat Eropa