Senin, 13/08/2018 11:13 WIB
Berlin - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS)-China, dinilai memperlambat dan menghancurkan pertumbuhan ekonomi dan menghasilkan ketidakpastian yang baru.
Demikian kata Menteri Ekonomi Jerman, Peter Altmaier menyusul keputusan Presiden AS, Donald Trump menerapkan tarif tambahan kepada rekan NATO-nya, Ankara, Bild am Sonntag, Minggu (12/8).
"Masa lalu telah menunjukkan kepada kita bahwa konsumen sangat dipengaruhi oleh perang dagang karena produk menjadi lebih mahal," kata Altmaier.
Pernyataannya datang setelah Trump meningkatkan serangannya ke Turki dengan menggandakan tarif 20 persen untuk impor aluminium dan 50 persen untuk baja.
Aturan Baru FIFA Gagalkan Turki Lolos Babak Gugur Piala Dunia
Wakil Presiden AS: Tidak Ada Bukti Iran Masih Tutup Selat Hormuz
Trump Perkenalkan Pesawat New Air Force One, Hadiah dari Qatar
"Turki berdiri untuk keamanan dan keandalan di Eropa, kami bekerja sama dengan baik dengan Ankara dalam hal migrasi," katanya.
Altmaier mengatakan mereka sekarang memiliki kesempatan untuk kembali kepada objektivitas karena pemilu di Turki sudah berakhir.
"Kami ingin Turki menjadi negara yang stabil dan demokratis, dan hubungan ekonomi yang baik berkontribusi untuk itu," katanya.
Hubungan politik antara Ankara dan Berlin mengalami sejumlah kemunduran dalam dua tahun terakhir, namun kedua negara telah mengambil langkah-langkah menuju normalisasi.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan diperkirakan akan melakukan kunjungan resmi ke Berlin bulan depan. (aa)
Keyword : Turki China Amerika Serikat