Sabtu, 20/01/2018 08:29 WIB
Jakarta - Pertemuan antara Perdana Menteri Inggris Theresa May dan Presiden Prancis Emanuel Macron menghasilkan sebuah komitmen untuk meningkatkan kerjasama pertahanan.
Setelah pertemuan pada Jumat (19/01) di Royal Military Academy Sandhurst, akademi militer Inggris mengatakan bahwa Prancis akan meningkatkan dukungannya terhadap kelompok pertempuran Forward Presence di Estonia.
Kelompok tersebut, sebuah kelompok pertehanan NATO yang dipimpin oleh Inggris, dibentuk pada 2016 lalu untuk mencegah agresi Rusia terhadap negara-negara NATO yang rentan di perbatasan Rusia.
Inggris juga akan mengerahkan helikopter ke Mali untuk memberikan dukungan logistik bagi tentara Prancis yang mengoperasikan misi kontraterorisme.
8 Ucapan Hari Buruh Sedunia dalam Bahasa Inggris, Cocok untuk Medsos
Inggris Ingin Berlakukan Lagi Larangan Kelompok Pro Palestina
Arkeolog Prancis Pecahkan Misteri Tulisan Kuno Iran 4.000 Tahun
May dan Macron setuju untuk membentuk dewan pertahanan dua negara di mana menteri pertahanan Prancis dan Inggris dapat membicarakannya lebih lanjut.
Inggris, meskipun meninggalkan Uni Eropa, akan mendukung Inisiatif Intervensi Eropa yang diusulkan, kerangka kerja pertahanan koperasi untuk memperbaiki perencanaan operasional penyebaran militer yang terpisah dari NATO, Uni Eropa dan JEF, atau organisasi Federalis Federal Muda.
Kedua pemimpin tersebut juga menegaskan bahwa Gabungan Joint Expeditionary Force, sebuah komando militer gabungan Inggris-Prancis yang disatukan, akan siap pada 2020 mendatang.