Rabu, 11/10/2017 09:14 WIB
Jakarta - Pejabat tinggi militer dan polisi mengatakan kelompok teroris tertarik ke Filipina karena negara tersebut terlalu demokratis, Rabu (11/10)
Mereka bereaksi terhadap pernyataan oleh Russel Salic, seorang dokter Filipina yang dituduh mentransfer uang ke tersangka terlibat dalam rencana teror kereta bawah tanah New York City dan Times Square yang gagal, mengatakan bahwa Filipina adalah tempat berkembang biak bagi para teroris.
"Negara ini terlalu berdemokrasi yang dieksploitasi oleh kelompok teror dan juga kelompok kriminal," kata kepala militer Jenderal Eduardo Ano.
Ano mengutip undang-undang keamanan yang tidak memadai di negara tersebut dibandingkan dengan negara-negara seperti Singapura, Amerika Serikat, Malaysia dan Australia yang mengizinkan penangkapan individu berdasarkan kecurigaan.
Kemenhaj Siagakan Mobile Crisis Rescue di Mina Respons Situasi Darurat
Iran Kecam Serangan Amerika Serikat di Bandar Abbas
Sembilan Orang Hilang Akibat Ledakan di Pabrik Kertas AS
Kepala polisi Ronald dela Rosa berbagi sentimen ini, mengatakan, ruang demokrasi di negara itu kadang-kadang berbatasan dengan ketidakdisiplinan.
Dela Rosa menyebutkan kurangnya sistem ID nasional di Filipina dan juga penerbitan kartu SIM prabayar yang tidak terbatas untuk telepon genggam sebagai salah satu keterbatasan yang membuat pihak berwenang melacak kelompok kriminal dan teror.
Percakapan dengan agen Amerika Seriakt yang berpose sebagai pendukung Daesh mengungkapkan bahwa Salic mengatakan, undang-undang teror di Filipina tidak ketat, dan karena itulah teroris dari seluruh dunia biasanya datang ke sini.
Salic, yang juga diketahui melakukan penculikan dan tuduhan pembunuhan di Filipina, telah ditahan di Biro Investigasi Nasional sejak April. Pemerintah Filipina berkomitmen untuk bekerja sama penuh dengan Amerika Serikat mengatakan akan memproses ekstradisinya setelah da secara formal didakwa terlibat dalam rencana melakukan serangan teror di New York.
Keyword : Filipina ISIS Russell Salic Amerika Serikat