Selasa, 20/06/2017 23:39 WIB
Jakarta - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Sulton Fatoni mengatakan madrasah diniyah (madin) yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia bukan sekadar program les seperti kursus bahasa asing.
"Tidak kaget dengan pernyataan yang mengatakan madrasah diniyah itu layaknya kursus sebagaimana kursus bahasa Inggris dan sejenisnya," kata Sulton di Jakarta, Selasa.
Dia mengatakan kegigihan Nahdlatul Ulama mempertahankan eksistensi madrasah diniyah dan pondok pesantren sudah terbukti membentuk karakter bangsa yang agamis. Dengan begitu, dia tidak sepakat jika madrasah diniyah dikecilkan perannya dalam mendidik anak bangsa.
Menurut dia, pihak-pihak yang mengecilkan peran madrasah diniyah itu kemungkinan tidak mengerti secara mendalam mengenai seluk beluk sekolah keagamaan yang khas tersebut.
Awal Safar 1448 H, LF PBNU: Hilal Sudah Ada di Atas Ufuk
LF PBNU Sebut Posisi Hilal Zulhijjah di Seluruh Indonesia di Atas Kriteria
Gus Ubab Minta Calon Ketum PBNU Jangan Saling Serang
Kemungkinan, kata dia, mereka hanya mengetahui sekolah-sekolah formal dan belum pernah mengenyam pendidikan madrasah diniyah sehingga memiliki pengalaman yang berbeda dalam memposisikan madin.
Diberitakan, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yunahar Ilyas mengatakan penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 tahun 2017 terkait Hari Sekolah seharusnya tidak dikaitkan dengan kekhawatiran eksistensi madrasah diniyah.
"Sebenarnya statusnya madrasah diniyah itu hanya kursus-kursus saja... Sumber pendidikan sekarang itu tidak hanya disekolah, tetapi di masyarakat," kata dia.
Keyword : madrasah diniyah PBNU