Rabu, 18/06/2025 14:01 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Karier Emmanuel Adebayor di dunia sepak bola tidak hanya diwarnai gol-gol spektakuler, tetapi juga konflik emosional yang membekas dalam sejarah Premier League.
Salah satu momen paling kontroversial datang pada 2009, saat striker asal Togo ini memilih hengkang dari Arsenal ke rival langsung mereka, Manchester City.
Adebayor sebelumnya menjadi tumpuan serangan Arsenal dan mencetak 30 gol dalam semusim. Namun, di balik catatan impresif itu, hubungan sang pemain dengan klub dan para pendukung memburuk.
Ia merasa tidak lagi dibutuhkan, bahkan dikhianati oleh klub yang sebelumnya membesarkannya. Keputusan Arsenal untuk membuka pintu kepergiannya ke Manchester City hanya memperkuat rasa kecewa yang ia rasakan.
Martinelli Siap Bawa Arsenal Melangkah Lebih Jauh di Liga Champions
Mikel Arteta Bangga Arsenal Ukir Sejarah Baru Liga Champions
Arteta Sebut Arsenal Tanpa Rasa Takut di Fase Krusial Musim Ini
Puncak dari drama ini terjadi saat Manchester City menjamu Arsenal dalam pertandingan liga. Adebayor berhasil mencetak gol ke gawang mantan klubnya dan langsung melakukan selebrasi dengan berlari sepanjang lapangan untuk merayakan tepat di depan suporter Arsenal.
Selebrasi ini memicu kontroversi besar, terutama karena dipandang sebagai respons langsung terhadap nyanyian rasis yang ia terima dari sebagian pendukung lawan.
Tindakan itu membuatnya dijatuhi hukuman skorsing, namun bagi Adebayor, momen tersebut merupakan luapan emosi yang telah lama terpendam, sebuah pembalasan personal atas luka hati yang ia alami.
Kisah Adebayor menjadi cermin dari bagaimana hubungan antara pemain dan klub bisa berubah drastis, dan bagaimana rasa pengkhianatan dapat meninggalkan jejak yang dalam, bahkan di tengah gemerlapnya dunia sepak bola profesional.