Minggu, 25/05/2025 14:34 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Kepadatan lalu lintas terjadi di sejumlah titik utama Kota Bandung pada Minggu pagi (25/5), menyusul konvoi aau pawai perayaan Persib Bandung yang sukses meraih gelar juara Liga 1 Indonesia atau BRI Liga 1 dua musim berturut-turut (back to back). Ribuan Bobotoh tumpah ruah ke jalan, menyemut hingga ke Gedung Sate, lokasi puncak perayaan sekaligus ikon sejarah yang menyimpan cerita menarik—termasuk soal asal-usul namanya yang unik.
Gedung Sate bukan hanya kantor Gubernur Jawa Barat, yang kini `dihuni` Dedi Mulyadi, tapi juga simbol identitas warga Bandung. Namun, tahukah Anda bahwa nama “Gedung Sate” tidak pernah ditetapkan secara resmi? Jika penasaran, berikut adalah ulasannya yang dirangkum dari berbagai sumber.
Gedung Sate bukan hanya bangunan pemerintah. Ia adalah identitas budaya, arsitektur sejarah, dan hasil dari sindiran cerdas warga Bandung yang tak ingin larut dalam kolonialisme simbolik.
Dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1920 hingga 1924, Gedung Sate awalnya dirancang sebagai Departemen Pekerjaan Umum (Departement Verkeer en Waterstaat). Namun, nama resminya dalam bahasa Belanda dianggap terlalu panjang dan asing di telinga warga.
Marc Klok Akui Persib Bandung Kewalahan saat Hadapi Bali United
Kejar Rekor Clean Sheet, Teja: Yang Penting Menang Dulu
Pelatih Bali United Kecewa Timnya Gagal Amankan Poin di Bandung
Warga Bandung pun memberi julukan alternatif: Gedung Sate—karena di puncak menara bangunan terdapat ornamen menyerupai tusuk sate dengan enam bulatan, yang ternyata bukan sekadar hiasan.
Menurut edukator Museum Gedung Sate, Wenno Guna Utama, julukan tersebut lahir dari reaksi spontan masyarakat yang melihat bentuk atap bangunan dan menanggapinya dengan guyonan khas Sunda. “Alih-alih menghafal nama resminya yang ribet, warga menyebutnya Gedung Sate—karena memang ada ‘sate’ di atasnya,” jelas Wenno.
Tusuk sate itu bukan sembarang dekorasi. Ia melambangkan enam juta gulden, biaya pembangunan gedung pada masa itu—yang jika dikonversikan setara lebih dari Rp420 miliar saat ini. Jumlah yang sangat besar untuk ukuran zaman kolonial.
Arsitek utamanya adalah Ir. J. Gerber, yang bekerja sama dengan Kolonel Geni V.L. Slors dan tim arsitek Belanda serta pribumi. Gedung ini merupakan bagian dari mega proyek pusat pemerintahan Hindia Belanda di Bandung.
Arsitekturnya sendiri merupakan perpaduan lintas budaya: gaya Renaissance Italia untuk struktur utama, jendela ala Moorish Spanyol, serta menara yang mengadopsi bentuk pura Bali atau pagoda Asia. Inilah cikal bakal gaya Indo-Eropa yang kini menjadi warisan arsitektur penting.
Lebih dari Sekadar Kantor GubernurSejak tahun 1980, Gedung Sate resmi menjadi kantor Gubernur Jawa Barat, dan kini gedung itu `dihuni` oleh Dedi Mulyadi. Namun perannya jauh melampaui fungsi administratif. Gedung ini menjadi titik kumpul masyarakat saat peristiwa penting—termasuk saat konvoi Persib hari ini yang berujung di halamannya.
Dengan arsitektur megah, sejarah panjang, dan cerita rakyat yang membentuk namanya, Gedung Sate menjadi simbol bahwa identitas lokal bisa hadir dari resistensi, kreativitas, dan rasa kepemilikan warga terhadap ruang kota.
Dan hari ini, ketika lautan biru menyambut pahlawan lapangan hijau Sang Pangeran Biru, Gedung Sate kembali menjadi saksi sejarah—kali ini bukan pembangunan kolonial, melainkan kemenangan Persib, Bobotoh hingga warga Jawa Barat. (*)
Sumber: bandung.go.id, jabarprov.go.id, detikjabar, dan berbagai sumber lainnya.