Jum'at, 09/05/2025 22:01 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu penyakit mematikan di Indonesia. Sayangnya, hingga kini masih banyak orang tak sadar bahwa sejumlah kebiasaan sehari-hari justru membuka peluang lebih besar bagi bakteri Mycobacterium tuberculosis untuk menyerang tubuh.
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis ini umumnya menyerang paru-paru dan menimbulkan gejala seperti batuk berdahak sampai berdarah, demam, penurunan berat badan, keringat malam hari, serta kelelahan yang berkepanjangan.
Menurut data Kementerian Kesehatan RI, Indonesia berada di peringkat ke-2 jumlah kasus TBC terbanyak di dunia setelah India. Setiap tahun, lebih dari 800 ribu kasus TBC tercatat, dan masih banyak yang belum terdeteksi karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap gejalanya maupun cara penularannya.
Kebiasaan Sehari-hari yang Menyuburkan Risiko TBCBerikut beberapa kebiasaan umum yang ternyata bisa meningkatkan risiko penularan TBC:
Tanpa Sadar, 6 Kebiasaan Ini Bisa Picu Brain Rot
Kebiasaan Sehari-hari Ini Bisa Jaga Ketajaman Otak dan Perlambat Penuaan
Kebiasaan Sehari-hari Ini Bisa Perlambat Penurunan Fungsi Otak
Ventilasi buruk adalah ‘teman baik’ bagi bakteri TBC. Banyak orang tinggal di rumah atau bekerja di ruangan tertutup tanpa sirkulasi udara memadai. Akibatnya, udara yang mengandung droplet dari penderita TBC bisa bertahan lebih lama dan meningkatkan risiko penularan.
2. Merokok atau Terpapar Asap RokokPerokok aktif maupun pasif memiliki risiko lebih tinggi terkena TBC. Asap rokok melemahkan sistem pernapasan dan mengganggu kemampuan paru-paru untuk menangkal infeksi.
Kelelahan kronis dan stres menurunkan imunitas tubuh. Tubuh yang lemah lebih mudah diserang bakteri TBC, apalagi jika tinggal di lingkungan dengan paparan tinggi.
4. Mengabaikan Etika Batuk dan BersinBatuk tanpa menutup mulut atau bersin sembarangan menjadi salah satu cara tercepat penyebaran TBC. Sayangnya, kebiasaan ini masih sering ditemukan di tempat umum, transportasi publik, bahkan di rumah.
Kekurangan nutrisi penting seperti vitamin A, C, dan E bisa menurunkan daya tahan tubuh. Gizi buruk masih menjadi faktor risiko utama dalam kasus TBC di Indonesia, terutama di daerah padat penduduk dan miskin.
6. Tidak Menyelesaikan Pengobatan TBCBagi penderita TBC, menghentikan pengobatan sebelum waktunya bisa menyebabkan bakteri menjadi resisten. Selain membahayakan diri sendiri, ini juga membuat mereka lebih menular kepada orang lain.
Menghindari TBC bukan hanya soal menjaga kesehatan diri, tapi juga tentang menciptakan lingkungan yang sehat bagi orang lain. Kesadaran terhadap kebiasaan kecil bisa membuat perbedaan besar.
TBC bisa menyerang siapa saja, kapan saja—terutama jika kita tak waspada terhadap kebiasaan harian yang membuka celah bagi bakteri. Mulai dari membuka jendela, menjaga kebersihan, hingga pola makan seimbang—langkah sederhana bisa menyelamatkan nyawa. (*)