Kamis, 08/06/2017 19:47 WIB
Jakarta - Perbedaan pandangan politik adalah kenyataan dalam demokrasi. Itu harus dinikmati sebagai kekayaan dan khazanah sebuah bangsa.
“Karena itu kita bangunkan rasa kebersamaan, persaudaraan, itulah makna di balik kebangsaan kita,” kata Muhaimin Iskandar di Jakarta, Kamis (08/06/2017).
Sesama politisi, ia juga mengingatkan para pemimpin agar menjadi solidarity maker dengan mengedepankan semangat kebersamaan dan mengurangi ego personal.
“Salah satu yang paling penting buat politisi, para pimpinan mulai presiden sampai tingkat RT harus memberikan keteladanan, membangun tali persaudaraan di antara yang dipimpin maupun sesama warganya. kepemimpinan yang sukses jika semua pihak ikut terlibat mulai dari gagasan,” ujar pria yang disapa Cak Imin ini.
Niat Puasa Arafah dan Qadha Puasa Ramadan, Bolehkah Digabung?
Soroti Pelaksanaan Haji, Cak Imin Beberkan 3 Aspek Krusial Jelang Armuzna
Cak Imin-Gus Ipul Bicara Sekolah Rakyat, Ditargetkan Capai 400 Ribu Siswa
Ia menjelaskan, persaingan politik yang keras kadang menghilangkan tujuan politik yang sesungguhnya.
“Tujuan politik bukan kekuasaan, jabatan, atau proses politik, melainkan kemanfaatan yang dirasakan oleh rakyat, sesama manusia dan warga bangsa, bahkan bisa bermanfaat bagi dunia dari Indonesia,” ucapnya.
Momentum bulan Ramadan ini, Cak Imin mengajak para politisi dan pemimpin negeri ini untuk membangun solidaritas, keprihatinan, dan menahan diri dari ego masing-masing.
“Jadi di bulan Ramadan ini, momentum untuk mengingatkan kita bahwa keberagaman dan perbedaan apapun, golongan, suku, agama, ras, golongan maupun perbedaan kelas ekonomi, pada dasarnya kita satu. karena di Ramadan ini mengajarkan solidaritas, keprihatinan menahan diri dari ego masing-masing,” ujar Cak Imin.
Keyword : Cak Imin Ramadan Solidaritas Pemimpin