Senin, 05/10/2026 12:05 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Insiden serius yang terjadi dalam penerbangan FlyDubai menuju Tel Aviv memicu kritik politik di Israel. Pemimpin oposisi Gadi Eisenkot menilai pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu belum mengambil pelajaran dari kegagalan yang mengiringi serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Eisenkot menyampaikan kritik tersebut setelah penerbangan FlyDubai FZ1073 dari Dubai menuju Tel Aviv mengalami insiden di dalam kokpit dan akhirnya dialihkan ke Tabuk, Arab Saudi.
"Orang-orang yang menolak melakukan penyelidikan dan melarikan diri dari tanggung jawab karena ketakutan tidak dapat mencegah bencana berikutnya," kata Eisenkot, pemimpin partai oposisi Yashar, melalui platform X.
Ia menilai Menteri Transportasi Israel Miri Regev seharusnya mengundurkan diri terkait insiden tersebut. Jika Regev tidak mengundurkan diri, Eisenkot mengatakan Netanyahu semestinya memberhentikannya.
UAE: Kopilot Flydubai Coba Lakukan Aksi Teror, Serang Kapten dengan Kapak
Trump Sebut Kopilot Flydubai Mungkin Teroris, Motif Serangan Diselidiki
Gagalkan Sabotase Pesawat, Netanyahu Sebut Pilot India Pahlawan
"Dalam pemerintahan yang layak dan berfungsi sebagaimana mestinya, menteri transportasi seharusnya telah mengajukan pengunduran dirinya tadi malam," ujar Eisenkot.
Penerbangan FZ1073 mengalami insiden pada 30 September ketika pesawat dalam perjalanan dari Dubai menuju Tel Aviv. Pesawat kemudian dialihkan dan mendarat dengan selamat di Tabuk, Arab Saudi.
Otoritas Uni Emirat Arab kemudian menyatakan bahwa kopilot menyerang kapten menggunakan kapak darurat yang tersedia di kokpit dan berupaya mengambil alih kendali pesawat. Penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap seluruh keadaan, motif, serta kemungkinan keterkaitan lain dalam insiden tersebut.
Pesawat sempat mengalami penurunan ketinggian yang sangat tajam sebelum berhasil dikendalikan kembali. Menurut laporan mengenai insiden tersebut, penerbangan membawa lebih dari 170 orang dan akhirnya dapat mendarat dengan selamat setelah kru serta penumpang membantu mengatasi situasi di dalam pesawat.
Penyelidikan terkait insiden tersebut masih berjalan sehingga motif dan rangkaian lengkap kejadian belum sepenuhnya ditetapkan.
Eisenkot bukan satu-satunya tokoh politik Israel yang mengkritik pemerintah Netanyahu setelah insiden tersebut.
Mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett sebelumnya menyebut kejadian FlyDubai sebagai "kegagalan yang mengerikan dan mengejutkan". Ia juga mengaitkannya dengan persoalan kegagalan yang muncul di sekitar serangan 7 Oktober 2023.
Eisenkot kemudian menyerukan agar warga Israel menggunakan hak pilih dalam pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober. Ia mengatakan partainya ingin menghadirkan kepemimpinan yang dinilainya bertanggung jawab dalam waktu kurang dari sebulan.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika Israel menghadapi perdebatan mengenai tanggung jawab pemerintah dan mekanisme penyelidikan setelah insiden FlyDubai.
Insiden FZ1073 juga membuka kembali pertanyaan mengenai sistem keamanan penerbangan, khususnya proses pemeriksaan dan pengawasan terhadap awak pesawat yang terbang menuju Israel.
Laporan sebelumnya menyebut penerbangan tersebut mengalami gangguan serius di kokpit sebelum dialihkan ke Arab Saudi. Otoritas UEA kini menyelidiki keadaan dan motif insiden, sementara berbagai pihak juga menyoroti bagaimana insiden tersebut dapat terjadi di tengah prosedur keamanan penerbangan.
Bagi Eisenkot, persoalan tersebut bukan hanya mengenai insiden satu penerbangan. Ia menggunakan kejadian itu untuk kembali mempertanyakan mekanisme pertanggungjawaban pemerintah setelah serangan 7 Oktober 2023. (*)
Sumber: Anadolu