Kamis, 01/10/2026 17:05 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Pancasila tidak akan mampu menjadi modal menghadapi tantangan kehidupan berbangsa jika hanya berhenti di upacara bendera dan pembacaan teks semata.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan, di tengah gejolak ekonomi global dan potensi ancaman terhadap persatuan bangsa, pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
“Di tengah gejolak ekonomi global yang semakin nyata dan potensi ancaman terhadap persatuan bangsa, mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari merupakan keharusan untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur,” kata Lestari, Kamis (1/10), dalam rangka Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober.
Tema peringatan tahun ini, “Pancasila Pemersatu Bangsa menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, menurut Lestari, harus dimaknai secara mendesak bahwa pembangunan sumber daya manusia adalah fondasi kedaulatan bangsa.
Menbud Fadli Zon Ungkap Wajah Baru Museum Kesaktian Pancasila
Ketua MPR Tinjau Kampung Nelayan Merah Putih dan Sekolah Rakyat di Natuna
10 Contoh Ucapan Hari Kesaktian Pancasila 2026 yang Penuh Makna
Rerie, sapaan akrab Lestari, berpendapat bahwa titik awal untuk mencapai keadilan sosial adalah setiap anak Indonesia harus mendapat akses kesehatan dan pendidikan yang setara.
Namun, data Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang dirilis 2026 menunjukkan kesenjangan yang tajam. Indeks Modal Manusia (IMM) Indonesia pada 2025 hanya mencapai 0,562, jauh dari target RPJMN 2025–2029 sebesar 0,590.
Angka itu berarti seorang anak yang lahir hari ini diperkirakan hanya mampu mencapai 56,2% dari potensi produktivitasnya.
Yang lebih mengkhawatirkan, ketimpangan antardaerah sangat lebar: DI Yogyakarta mencatat IMM 0,705, sementara Papua Pegunungan hanya 0,366. Di bawah bendera merah putih yang sama, masa depan anak-anak berbeda hampir dua kali lipat.
“Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, harus menjadi pedoman kebijakan pembangunan sumber daya manusia,” tegas Rerie yang juga Anggota Komisi X DPR RI itu.
Menurut Rerie, tema peringatan tahun ini memiliki prasyarat yang tidak bisa ditawar, yaitu fondasi manusia yang sehat, terampil, dan berkarakter harus diwujudkan.
Pembangunan SDM, tambahnya, tidak boleh berhenti pada angka nasional, tetapi harus menjangkau daerah-daerah dengan capaian terendah.
Rerie menegaskan, Pancasila jika hanya dipuja di atas monumen, ia hanyalah sejarah. Namun, jika dituliskan ke dalam kebijakan gizi dan kesehatan, rutinitas pendidikan, dan setiap tahap pelatihan vokasi, ia adalah ruh bangsa yang hidup.
“Sudah saatnya kita bergerak dari seremonial menuju aksi nyata, mengamalkan nilai-nilai Pancasila pada kehidupan berbangsa dan bernegara,” pungkas Rerie.