Selasa, 29/09/2026 20:40 WIB
Brussels, Jurnas.com - Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, mengimbau seluruh sekutu untuk tetap tenang dalam menghadapi maraknya aksi sabotase yang dilancarkan Rusia di kawasan Eropa.
Dia menegaskan bahwa serangkaian tindakan yang dilakukan Moskow gagal menyurutkan komitmen negara-negara Barat dalam menyokong Ukraina, sebagaimana dikutip dari AFP pada Selasa (29/9).
Pernyataan tersebut mengemuka usai pemerintah Estonia secara resmi menuding badan intelijen Rusia berada di balik aksi pembakaran yang menimpa sebuah fasilitas perusahaan pertahanan pada Agustus lalu.
"Rusia terus melanjutkan kampanye tindakan bermusuhan yang ceroboh terhadap sekutu NATO. Mereka mencoba memperlemah tekad kami dan menghentikan dukungan kami untuk Ukraina. Namun Rusia gagal. Mereka gagal di medan perang di Ukraina dan mereka gagal merusak persatuan serta dukungan kami untuk Ukraina," kata Rutte.
Rusia Sebut Ukraina Bayar Mahal atas Serangan ke Moskow
Rusia Balas Ukraina, Serangan di Kota Kyiv Tewaskan Satu Bocah
Ukraina Serahkan Dua Tentara Bayaran Korut ke Korsel
Para pemimpin Eropa mengidentifikasi adanya peningkatan intensitas gangguan dan sabotase oleh Moskow terhadap negara-negara pendukung Ukraina.
Langkah ini dinilai sebagai respons atas tersendatnya pergerakan pasukan Kremlin di garis depan pertempuran setelah lebih dari empat tahun invasi sejak Februari 2022. Insiden sabotase di Estonia ini juga menyusul temuan drone bermuatan bahan peledak di bandara Rusia yang ditudingkan Berlin kepada pihak Moskow.
Meski demikian, Rutte mengakui bahwa manuver yang dilakukan Rusia tersebut memang dapat menimbulkan dampak di lapangan. Walau begitu, dia mendesak anggota Aliansi Atlantik Utara untuk tidak panik dan tetap melanjutkan bantuan bagi Kyiv.
"Kita tidak boleh naif tentang Rusia, tetapi mereka tahu kita lebih kuat," ujar Rutte.
Dalam kesempatan yang sama, Perdana Menteri Lithuania Mindaugas Sinkevicius menyampaikan bahwa badan intelijen belum menemukan indikasi, bahwa Moskow tengah mempersiapkan ancaman yang lebih besar dalam jangka pendek.
"Penting untuk menyampaikan jika ada ancaman bagi masyarakat, tetapi Anda tidak boleh berlebihan dan mengatakan sesuatu akan terjadi dalam beberapa bulan atau minggu mendatang," ungkap Sinkevicius.
"Risiko itu tetap ada, tetapi tidak berfluktuasi, tidak meningkat maupun menurun," dia menambahkan.