Selasa, 29/09/2026 10:59 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Kasus Ebola di Republik Demokratik Kongo (DR Kongo) terus meningkat dengan jumlah kumulatif mencapai 8.067 kasus sejak wabah dinyatakan pada pertengahan Mei. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.901 orang meninggal dunia, dengan tingkat kematian mencapai 48,4 persen.
Kementerian Kesehatan DR Kongo dalam pembaruan situasi terbaru pada Senin (28/9) menyebut penularan masih berlangsung di sejumlah wilayah. Wabah kali ini telah berdampak pada 63 zona kesehatan di tujuh provinsi, yakni Haut-Uele, Ituri, North Kivu, South Kivu, Bas-Uele, Tshopo, dan South-Ubangi.
Provinsi Ituri menjadi pusat utama wabah dengan menyumbang 76,4 persen dari seluruh kasus kumulatif sejak wabah dimulai. Kondisi di wilayah tersebut juga menjadi perhatian karena sebagian besar kematian baru yang terkonfirmasi terjadi di tengah masyarakat, bukan di pusat perawatan.
Kementerian Kesehatan menyebut kematian di luar pusat perawatan terjadi di Ituri dan North Kivu, antara lain akibat kendala dalam mendeteksi kasus secara tepat waktu. Kondisi tersebut meningkatkan tantangan dalam menemukan pasien dan memutus rantai penularan Ebola.
Wabah Ebola di Kongo Meluas, 3.226 Orang Tewas
Paus Leo Serukan Penanganan Bersama Wabah Ebola di Kongo
Kasus Ebola di Kongo Tembus 5.000 Orang
Masalah lain muncul dalam pelacakan kontak. Tingkat pelacakan kontak turun menjadi 79,2 persen, dari sebelumnya 83,4 persen. Penurunan tersebut menjadi salah satu persoalan dalam upaya mengidentifikasi orang-orang yang mungkin telah terpapar virus.
Penularan juga masih bertahan di Haut-Uele, sementara penularan kembali tercatat di Provinsi Tshopo. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa wabah belum sepenuhnya terkendali dan terus menimbulkan tantangan bagi upaya respons kesehatan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya memperingatkan bahwa meluasnya wilayah geografis yang terdampak Ebola meningkatkan risiko penyebaran lintas batas. South Ubangi dan Haut-Uele termasuk wilayah baru yang terdampak dalam perkembangan terbaru wabah.
WHO juga menyoroti meningkatnya rasio kematian serta bertambahnya jumlah pasien yang meninggal di tengah masyarakat sebagai indikator serius dalam perkembangan wabah Ebola kali ini.
Ebola merupakan penyakit yang membutuhkan deteksi dan penanganan cepat untuk membatasi penularan. Karena itu, lemahnya pelacakan kontak dan keterlambatan menemukan kasus menjadi tantangan penting dalam pengendalian wabah di wilayah yang terdampak.
Besarnya skala wabah juga terlihat dari sumber daya yang telah dikerahkan. Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC) menyebut sedikitnya 2,9 miliar dolar AS telah dimobilisasi untuk respons Ebola di kawasan Afrika. (*)
Sumber: Anadolu