Tujuh dari Sembilan Batas Planet Bumi Terlampaui, Kondisinya Terus Memburuk

Senin, 28/09/2026 22:05 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Tujuh dari sembilan batas planet yang menjadi penanda kondisi aman Bumi kini telah terlampaui.

Penilaian terbaru Planetary Health Check menunjukkan tekanan terhadap sistem pendukung kehidupan Bumi masih berada pada tingkat tinggi, sementara sejumlah mekanisme alami yang selama ini membantu meredam dampak emisi manusia mulai menunjukkan keterbatasan.

Penilaian tersebut disusun lebih dari 60 ilmuwan dari Planetary Boundaries Science Lab di Potsdam Institute for Climate Impact Research, Jerman. Laporan tahunan itu menilai sembilan proses utama yang menjaga Bumi tetap berada dalam kondisi layak huni.

Tujuh batas yang telah terlampaui mencakup perubahan iklim, keanekaragaman dan fungsi kehidupan, perubahan penggunaan lahan, air tawar, siklus nitrogen dan fosfor, perubahan kimia laut, serta pelepasan bahan kimia buatan manusia seperti plastik, pestisida, dan zat kimia persisten.

Sementara itu, lapisan ozon dan partikel udara secara global masih berada dalam batas aman. Namun, partikel udara telah melampaui batas regional yang diusulkan untuk Asia Selatan.

Ilmuwan Levke Caesar, salah satu pemimpin Planetary Boundaries Science Lab, mengingatkan bahwa angka tujuh dari sembilan tersebut tidak berarti seluruh batas mengalami perubahan terukur hanya dalam periode 2025 hingga 2026.

Menurut Caesar, persoalan utamanya adalah tekanan terhadap sistem Bumi masih belum mengalami penurunan yang cukup untuk mengembalikan batas-batas tersebut ke zona aman.

Emisi fosil bahkan kembali mencatat rekor pada 2025, mencapai sekitar 42 miliar ton atau sekitar 38 miliar metrik ton.

Sejumlah batas juga tidak dapat dibandingkan dari tahun ke tahun karena ketersediaan datanya berbeda. Batas air tawar, penggunaan lahan, serta sistem kehidupan, misalnya, menggunakan kumpulan data dengan periode pengamatan dan pembaruan yang tidak sama.

Karena itu, para ilmuwan belum melihat pembalikan tekanan yang berlangsung secara konsisten dan cukup kuat untuk membawa tujuh batas tersebut kembali menuju kondisi aman.

Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah kondisi penyerap karbon alami di daratan. Sejak sekitar 2000, penyerapan karbon oleh daratan, di luar karbon yang hilang akibat pembukaan lahan secara langsung, cenderung tidak lagi meningkat.

Padahal, tumbuhan, tanah, dan lautan selama ini menyerap sekitar setengah karbon dioksida yang dilepaskan manusia. Kemampuan tersebut menjadi salah satu penyangga alami yang memperlambat peningkatan suhu Bumi.

Namun, kemampuan daratan menyerap tambahan karbon memiliki batas. Peningkatan karbon dioksida memang dapat mendorong pertumbuhan tanaman di sejumlah kondisi, tetapi pertumbuhan tersebut tetap membutuhkan air dan nutrisi.

Di sisi lain, tekanan akibat panas dan kekeringan dapat mengurangi pertumbuhan tanaman serta meningkatkan kematian pohon, kebakaran, dan serangan hama. Manusia juga telah mengambil sekitar seperempat dari potensi produktivitas daratan.

Boris Sakschewski, ilmuwan di institut tersebut sekaligus penulis utama laporan, mengatakan pengamatan terbaru menunjukkan kemungkinan berkurangnya kemampuan penyangga alami Bumi terhadap tekanan yang terus meningkat.

Kondisi ini menjadi penting karena banyak skenario menuju emisi nol bersih mengandalkan keberlanjutan fungsi penyerap karbon alami. Jika kemampuan tersebut melemah, asumsi mengenai seberapa besar karbon dapat terus diserap oleh ekosistem juga perlu diperhitungkan kembali.

Para peneliti menyoroti keterbatasan model yang digunakan untuk memproyeksikan kondisi iklim. Dalam banyak model, hutan direpresentasikan sebagai beberapa tipe vegetasi rata-rata dalam grid berukuran besar.

Representasi tersebut tidak selalu menangkap kematian pohon secara individual akibat kekeringan, panas, atau serangan hama. Padahal, perubahan semacam itu dapat menentukan seberapa banyak karbon yang mampu terus disimpan oleh hutan.

Amazon menjadi salah satu contoh yang disoroti dalam laporan. Salah satu studi yang dikutip menyebut tambahan deforestasi dalam jumlah kecil berpotensi mendorong kawasan tersebut melewati titik kritis berdasarkan proyeksi saat ini, yang dapat berujung pada hilangnya sekitar dua pertiga hutan yang tersisa.

Pengasaman laut menjadi batas terbaru yang dinyatakan telah terlampaui pada 2025. Laut menyerap hampir 30 persen emisi karbon dioksida yang dihasilkan manusia dalam satu dekade terakhir. Namun, semakin banyak karbon dioksida yang masuk ke laut menyebabkan ketersediaan karbonat berkurang.

Karbonat dibutuhkan berbagai organisme laut, termasuk karang, tiram, kerang, dan plankton, untuk membentuk struktur cangkang atau kerangka tubuhnya.

Dampaknya juga berpotensi dirasakan masyarakat yang menggantungkan pangan, pendapatan, maupun perlindungan pesisir pada ekosistem laut. Menurut Caesar, kekhawatiran utamanya adalah fondasi ekologis bagi mata pencaharian tersebut menjadi semakin kurang tangguh.

Laporan itu juga menyoroti aktivitas penangkapan ikan dengan pukat dasar. Sekitar 1 hingga 2 persen dasar laut tersentuh aktivitas tersebut setiap tahun, dengan wilayah yang paling produktif menjadi salah satu area yang paling terdampak.

Laporan terbaru juga mencatat berbagai bencana yang berkaitan dengan tekanan terhadap sistem Bumi. Para peneliti menggunakan tiga pendekatan untuk membuat pemeringkatan dan menemukan 21 peristiwa yang masuk dalam daftar 10 besar berdasarkan pendekatan yang berbeda.

Sebagian besar peristiwa tersebut dinilai memiliki kemungkinan atau intensitas yang meningkat akibat perubahan iklim yang disebabkan manusia.

Banjir di Pakistan antara Juni dan September 2025, misalnya, menewaskan 1.037 orang dan berdampak terhadap sekitar 7 juta orang.

Badai Melissa yang menghantam Jamaika dan Kuba pada Oktober 2025 juga berdampak terhadap jutaan orang dan menyebabkan kerugian ekonomi yang diperkirakan mencapai sekitar 10 miliar dolar AS di kawasan Karibia.

Dalam kasus tersebut, sistem peringatan dini membantu menekan jumlah korban jiwa. Laporan menempatkannya sebagai salah satu contoh paling jelas mengenai pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.

Tekanan panas yang memicu pemutihan karang juga tercatat sangat luas. Sekitar 84 persen wilayah terumbu karang dunia mengalami tekanan panas pada tingkat pemutihan antara Januari 2023 hingga September 2025, yang disebut sebagai kejadian terbesar yang pernah diamati.

Eropa Barat juga mencatat Juni dan Juli terpanas dalam sejarah pencatatan pada 2026. Ketika ditanya batas planet mana yang perlu ditekan terlebih dahulu, Caesar menyoroti transformasi sistem energi dan pangan.

Menurut dia, kedua sektor tersebut memiliki pengaruh besar terhadap beberapa batas planet secara bersamaan. Pengurangan penggunaan bahan bakar fosil, misalnya, tidak hanya berkaitan dengan perubahan iklim, tetapi juga dapat mengurangi tekanan terhadap pengasaman laut.

Sementara itu, sistem pangan disebut menjadi salah satu pendorong utama terhadap empat batas planet yang telah terlampaui.

Para ilmuwan belum dapat memastikan seberapa jauh kemampuan penyerap karbon daratan akan melemah atau seberapa cepat tiga batas lainnya berubah karena keterbatasan data tahunan.

Namun, laporan tersebut menekankan bahwa ketidakpastian data bukan alasan untuk menunda upaya mengurangi tekanan terhadap sistem Bumi.

Planetary Health Check diterbitkan setiap tahun sebagai penilaian kondisi sistem Bumi. Laporan ini merupakan asesmen tahunan dari Planetary Boundaries Science dan bukan artikel penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah. (*)

Sumber:  Earth

TERKINI
Tujuh dari Sembilan Batas Planet Bumi Terlampaui, Kondisinya Terus Memburuk Banjir Thailand Tewaskan 19 Orang, 700 Ribu Warga Bangkok Terdampak Prabowo dan Erdogan Bahas Penguatan Perdagangan hingga Industri Pertahanan Awards Ini jadi Tolak Ukur Keberhasilan Dampak Nyata CSR