Suriah Tangkap Jenderal Era Assad Terkait Pembantaian Saida 2011

Senin, 28/09/2026 18:04 WIB

Damaskus, Jurnas.com - Pasukan Keamanan Dalam Negeri Republik Arab Suriah meringkus mantan komandan militer era rezim Bashar Assad, Brigadir Jenderal Jaber Mehrez Ibrahim. Mantan komandan Brigade Pertahanan Udara ke-138 tersebut diamankan atas dugaan keterlibatan dalam tragedi pembantaian Perumahan Saida pada 2011 silam.

Kantor Berita Arab Suriah (SANA) melaporkan bahwa penangkapan Ibrahim berhasil dilakukan usai aparat menjalankan "operasi pemantauan dan pelacakan yang presisi". Ibrahim diketahui memegang kendali komando pasukan di Kota Saida, wilayah timur Provinsi Daraa.

Berdasarkan dokumen investigasi awal, Ibrahim dituduh memberikan instruksi langsung untuk membunuh, menangkap, dan menindak keras para pengunjuk rasa. Dia juga disinyalir memimpin agresi militer ke sejumlah desa di pedesaan timur Daraa, mengejar warga sipil, serta menyerang permukiman penduduk.

Otoritas berwenang menyatakan Ibrahim bertanggung jawab langsung atas pembantaian Perumahan Saida yang menewaskan hampir 120 orang. Selain itu, namanya disangkutpautkan dengan praktik penangkapan sistematis dan penyiksaan terhadap warga lokal, termasuk seorang anak laki-laki berusia 13 tahun bernama Hamza Al-Khatib.

Meski demikian, laporan resmi belum merinci tanggal pasti penangkapan dan tuduhan tersebut belum diuji di persidangan, sebagaimana dikutip dari Arab News pada Senin (28/9).

Tragedi Perumahan Saida meletus pada 29 April 2011 di awal gelombang demonstrasi Suriah, tepatnya pada momen yang dinamai aktivis sebagai "Jumat Kemarahan". Insiden berdarah ini terjadi di sekitar kompleks perumahan militer dan markas Brigade Pertahanan Udara ke-138 dekat Saida.

Kala itu, ribuan demonstran tanpa senjata dari desa-desa sekitar, seperti Al-Jiza, Al-Musayfirah, dan Kahil, bergerak menuju Kota Daraa untuk menyalurkan bantuan pangan serta medis guna menembus pengepungan militer.

Namun, pasukan rezim bersama Intelijen Angkatan Udara melepaskan tembakan senapan mesin berat ke arah rombongan. Sekitar 120 orang dilaporkan tewas atau hilang, sementara puluhan lainnya luka-luka dan ditahan.

Hamza Al-Khatib menjadi salah satu korban yang ditangkap dalam peristiwa itu. Beberapa pekan kemudian, jasad anak tersebut dikembalikan kepada keluarganya dalam kondisi hancur akibat siksaan berat, yang memicu gelombang protes masif di Suriah dan kecaman internasional.

Penangkapan Ibrahim menambah deretan langkah tegas otoritas baru Suriah dalam mengusut kejahatan perang para pejabat pemerintahan Assad pasca-runtuhnya rezim pada 8 Desember 2024.

Sebelumnya, Kementerian Dalam Negeri Suriah juga menangkap sejumlah perwira tinggi terkait serangan senjata kimia di Ghouta pada 2013, di antaranya Mayor Jenderal Adnan Abboud Halwa, Kolonel Ahmad Habib Ali, dan Brigadir Jenderal Khardal Ahmad Dioub, serta eks anggota Intelijen Militer Amjad Youssef terkait pembantaian Tadamon 2013.

TERKINI
Pakistan Protes Afghanistan Soal Pelanggaran Ruang Udara Lalu Lintas Tanker LNG Qatar di Selat Hormuz Mulai Pulih Kalapas Cibinong Akui Pindahkan Barang Usai Disidak Ombsudman Asencio Enggan Hengkang meski Ditawar Chelsea dan Liverpool