Kamis, 24/09/2026 21:17 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Kementerian Transmigrasi (Kementrans) mendorong penerapan solusi teknologi yang menjawab langsung persoalan masyarakat di kawasan transmigrasi.
Salah satunya melalui penggunaan Smart Solar Biomass Dryer untuk membantu petani pala di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey, Papua Barat, mengatasi kendala cuaca saat mengeringkan hasil panen.
Alat pengering yang diperkenalkan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 15 Universitas Hasanuddin tersebut dapat memangkas waktu pengeringan biji pala dari sekitar tujuh hari menjadi dua hari. Teknologi ini juga tidak membutuhkan bahan bakar minyak maupun listrik dan dapat memanfaatkan sampah di sekitar sebagai sumber energi.
Penerapan teknologi tepat guna tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan solusi atas persoalan yang ditemukan langsung di lapangan. Dengan proses pengeringan yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada cuaca, petani dapat mengurangi kekhawatiran terhadap hasil panen yang berjamur ketika hujan turun.
Kementrans: Teknologi Kedirgantaraan Buka Keterisolasian Kawasan
Wamentrans: Model Pembangunan Tiongkok Bisa Jadi Inspirasi Bangun Kawasan
Kementrans Serahkan 100 Rumah Transmigrasi Jamban Keluarga di Domande
Ketua Kelompok Tani Rangkum, Aher Samai, mengatakan alat tersebut memang dibutuhkan petani di kawasan transmigrasi. Namun, ia berharap kapasitas pengering dapat ditingkatkan agar mampu mengolah lebih banyak pala dalam waktu lebih singkat.
"Terkait alat pengering, memang dibutuhkan adanya alat seperti ini yang mana kita tidak perlu khawatir dengan cuaca, misalnya huja," ujar Aher Samai, dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Rabu (23/09).
"Selain itu, untuk pengeringannya bisa menggunakan sampah di sekitar dan tidak memerlukan listrik, sehingga bisa digunakan di mana saja. Namun harapannya mesin pengering yang dibuat bisa memuat kapasitas lebih banyak sehingga dapat mengeringkan lebih banyak dan lebih cepat," dia menambahkan.
Manfaat utama dari alat pengering tepat guna ini adalah memangkas waktu pengolahan, dari tujuh hari menjadi dua hari saja. Dengan suhu yang bisa dibuat stabil 60 derajat Celsius, kualitas dan harga jual biji pala tetap terjaga. Dalam satu kali proses pengeringan, alat ini dapat menampung hingga seribu biji pala.
"Kemudian di atasnya ada space khusus lagi yang dalamnya ada lima tray, tu bisa mengeringkan sekitar seribu biji pala," ujar Michel Obrien, Perwakilan Tim TEP Universitas Hasanuddin, dalam keterangannya.
Penerapan teknologi pertanian modern ini sejalan dengan pandangan Presiden Prabowo Subianto yang optimistis bahwa modernisasi sektor pertanian akan memperkuat fondasi ketahanan pangan nasional.
Pentingnya keberlanjutan aksi nyata di lapangan ditekankan oleh Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dalam arahannya kepada para peserta program Tim Ekspedisi Patriot.
"Jangan sampai teman-teman Ekspedisi Patriot sudah turun ke lapangan, sudah mendengarkan masyarakat, kemudian berhenti di masalah. Kita harus menghadirkan solusi yang terbaik, relevan, visibel, dan masuk akal," ujar Menko AHY saat kunjungan ke Jayapura beberapa waktu lalu.
Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, juga menekankan pentingnya kemandirian dan keaktifan para pemuda di lapangan.
"Indonesia membutuhkan SDM yang tidak lagi menunggu perintah, tetapi mampu melihat masalah, menganalisisnya, lalu menghadirkan solusi. Itulah yang kami sebut sebagai Disiplin Inisiatif," tegas Mentrans beberapa waktu lalu.