Kamis, 24/09/2026 18:40 WIB
Seoul, Jurnas.com - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyampaikan bahwa pihaknya telah menyerahkan dua tawanan perang asal Korea Utara kepada pemerintah Korea Selatan. Pengumuman tersebut disampaikan Zelensky dalam pidatonya di hadapan Majelis Umum PBB pada Rabu pada (23/9) kemarin.
"Baru-baru ini, kami telah mengirim dua tawanan perang Korea Utara ke Republik Korea," ujar Zelensky dalam pidatonya, dikutip dari Reuters pada Kamis (24/9).
Zelensky juga menceritakan sulitnya menangkap prajurit Korea Utara dalam keadaan hidup. "Salah satu dari mereka, ketika menyadari akan ditangkap, mencoba mengakhiri hidupnya sendiri. Dia terkejut karena takdir tidak membiarkannya tewas," tambah Zelensky.
Kedua tentara tersebut ditangkap oleh pasukan Ukraina di wilayah Kursk, Rusia, pada Januari tahun lalu, dan menjadi prajurit Korea Utara pertama yang berhasil diamankan dalam keadaan hidup sejak keterlibatan Pyongyang dalam perang Rusia-Ukraina sejak 2024.
Rusia Diduga Manfaatkan Pekerja Ilegal Korut Produksi Drone
Rusia Gelar Pemilu Perdana pada Tahun Kelima Perang Ukraina
Ancam Musim Dingin Tanpa Listrik, Zelenskyy Bersumpah Balas Rusia
Sebelumnya, Zelensky sempat berencana menukarkan kedua tawanan tersebut dengan warga Ukraina yang ditahan di Rusia melalui skema penukaran dengan pihak Kim Jong-un.
Namun, kelompok hak asasi manusia mendesak agar mereka dikirim ke Korea Selatan guna menghindari risiko hukuman berat jika dipulangkan ke Pyongyang. Media Korea Selatan juga melaporkan bahwa kedua prajurit tersebut telah menyatakan keinginan mereka untuk membelot ke Korea Selatan.
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan enggan memberikan konfirmasi rincian terkait waktu kedatangan demi keselamatan para prajurit dan keluarga mereka.
Kendati demikian, Korsel pada Juni lalu menegaskan komitmennya untuk menerima seluruh tawanan perang Korea Utara yang bertempur untuk Rusia, serta menolak pemulangan paksa mereka ke Rusia maupun Korea Utara.
Dalam pidatonya, Zelensky turut mengkritik keras langkah Kim Jong-un yang menyiagakan tentaranya demi kepentingan Moskow. Menurut estimasi Ukraina dan Korea Selatan, Pyongyang telah mengerahkan sekitar 14.000 hingga 15.000 prajurit sejak 2024, sebagian besar ditempatkan di Kursk, serta mempasok jutaan amunisi artileri dan rudal balistik untuk mendukung invasi Rusia.