Rabu, 23/09/2026 20:15 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Iran menyampaikan sejumlah syarat kepada Amerika Serikat (AS) melalui mediator Qatar dalam komunikasi diplomatik yang berlangsung di New York di sela-sela Sidang Umum PBB ke-81.
Tehran menyebut syarat tersebut mencakup penghentian perang, penghentian tindakan agresif AS, pencabutan blokade laut dan perang ekonomi, serta pembebasan aset Iran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan komunikasi dengan pihak AS dilakukan melalui mediator Qatar. Komunikasi tersebut berlangsung ketika delegasi kedua negara berada di New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB.
"Tujuan dari interaksi ini adalah menyampaikan persyaratan Iran, termasuk mengakhiri perang di segala bidang, menghentikan tindakan agresif AS, blokade laut dan perang ekonomi, serta membebaskan aset-aset Iran," kata Baghaei, seperti dikutip dari laporan media Iran.
Jepang Dorong AS-Iran Kembali Berunding untuk Akhiri Konflik Timur Tengah
AS Siap Gunakan Nuklir untuk Bela Jepang dan Korsel
IRGC Ancam Ubah Geografi Perang jika AS Serang Iran Lagi
Pernyataan Baghaei mengonfirmasi adanya kontak antara kedua pihak setelah Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan pejabat AS telah melakukan pembicaraan dengan perwakilan delegasi Iran di New York selama sekitar tiga jam.
Trump menyebut pembicaraan tersebut berjalan "sangat baik". Namun, keterangan dari Tehran menempatkan komunikasi itu sebagai bagian dari kontak tidak langsung yang dimediasi Qatar. Laporan terbaru juga menyebut pihak Iran tidak menyatakan adanya perubahan terhadap posisi atau persyaratan yang sebelumnya telah disampaikan kepada Washington.
Televisi pemerintah Iran juga mengonfirmasi bahwa Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu dengan utusan khusus Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Menurut laporan televisi Iran, pertemuan tersebut berlangsung atas permintaan berulang dari pihak AS. Kontak itu menjadi bagian dari rangkaian diplomasi yang berlangsung di tengah Sidang Umum PBB di New York.
Pembicaraan antara Iran dan AS berlangsung ketika kedua negara masih berhadapan dalam konflik yang dimulai pada 28 Februari. Tehran menyatakan perang tersebut telah menewaskan ribuan orang.
Iran kemudian merespons dengan serangan rudal dan drone ke sejumlah wilayah di kawasan. Konflik juga berdampak pada Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute penting bagi pasokan energi dunia.
Posisi Iran mengenai Selat Hormuz menjadi salah satu persoalan yang berkaitan erat dengan pembicaraan tersebut. (*)
Sumber: Anadolu