Dari Rumah hingga WtE, Pengelolaan Sampah Perlu Jalan Beriringan

Sabtu, 19/09/2026 10:26 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Pengelolaan sampah berbasis warga di RT 08/RW 04, Kelurahan Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, menunjukkan bahwa pemilahan dari sumber dapat memberikan manfaat lingkungan sekaligus ekonomi. Melalui kombinasi biopori, komposter, budidaya maggot, dan bank sampah, sebanyak 41 rumah tangga di lingkungan tersebut berupaya mengolah sampah secara mandiri.

Namun, keberhasilan ditingkat komunitas dinilai perlu berjalan beriringan dengan solusi berskala besar seperti program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste-to-Energy (WtE) untuk mengolah sampah yang belum tertangani.

Ketua RT 08/RW 04 Taufiq Supriadi Yusuf mengatakan, pemilahan sampah dari rumah tangga harus menjadi fondasi pengelolaan sampah. Sementara itu, WtE yang tengah digarap Danantara Indonesia bisa menjadi salah satu alternatif untuk menangani sampah yang tidak tertangani melalui inisiatif warga.

“Warga harus memilah sampah dari awal. (Sampah) organik itu sebetulnya seperti tambang emas yang bisa dimanfaatkan, lalu yang nonorganik bisa untuk Waste-to-Energy,” kata dia saat diwawancarai melalui sambungan telepon dari Jakarta.

Taufiq menyadari, pengelolaan sampah berbasis warga memiliki keterbatasan, terutama dari sisi lahan dan kapasitas pengolahan. Maka dari itu, ia menilai hadirnya WtE tetap diperlukan sebagai bagian dari solusi pengelolaan sampah di Indonesia.

“Waste-to-Energy tetap harus dilakukan karena mereka punya lahan yang beda dengan kami yang tidak punya lahan. Kalau ada lahan, kami pun senang ada Waste-to-Energy,” ujarnya.

Ia menilai solusi pengelolaan sampah perlu dibangun secara berlapis, mulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga hingga teknologi pengolahan berskala besar. 

Taufiq berharap proyek PSEL atau WtE yang dikembangkan pemerintah dapat membantu mengurangi timbulan sampah yang terus menumpuk, termasuk di Tempat Pemrosesan Akhir. Namun, ia menekankan kehadiran teknologi pengolahan sampah tidak boleh membuat masyarakat berhenti melakukan pemilahan dari sumber.

“Harapan ke depan ya keluarga harus bergerak bersama supaya negara tidak lagi sendirian,” kata Taufiq.

Sementara itu, Danantara Indonesia melalui PT Danantara Investment Management (DIM) dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) meresmikan pembangunan fasilitas PSEL Bogor Raya 1 di Desa Galuga, Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Kamis (17/9/2026). PSEL Bogor Raya 1 menjadi fasilitas ketiga yang memasuki tahap pembangunan setelah PSEL Denpasar Raya dan PSEL Kota Bekasi. Adapun PSEL Bogor Raya 1 akan mencakup kawasan aglomerasi Kabupaten Bogor dan Kota Bogor. 

Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengatakan, fasilitas ini merupakan bagian dari upaya Danantara Indonesia mempercepat pengembangan solusi pengelolaan sampah perkotaan yang berkelanjutan dan berbasis teknologi ramah lingkungan, sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025. 

"Permasalahan sampah tidak hanya memengaruhi kehidupan kita saat ini, tetapi juga masa depan anak-anak kita. PSEL Bogor Raya I dirancang untuk memberikan dampak nyata terhadap pengelolaan sampah, pengembangan energi hijau, dan pemberdayaan ekonomi lokal. Proyek ini ditargetkan mampu mengelola lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun, menurunkan emisi dari TPA hingga 80 persen, serta mengurangi emisi karbon sekitar 640 ribu ton setara CO2 per tahun,” kata Pandu.

TERKINI
Statistik Head to Head Borneo FC vs Bali United 3 Tanda Riya yang Sering Tidak Disadari dalam Kehidupan Sehari-hari Bahaya Riya dalam Islam, Sedikit Saja Bisa Menjadi Syirik 5 Film Bajak Laut Terbaik yang Wajib Kamu Tonton