Jum'at, 18/09/2026 07:25 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Korban tewas akibat banjir bandang dan longsor dahsyat di kawasan perbatasan Nepal-China terus bertambah. Hingga Kamis (17/9), jumlah korban meninggal dunia mencapai 1.453 orang, sementara 6.664 orang masih dinyatakan hilang di kedua sisi perbatasan.
Di Nepal, National Disaster Risk Reduction and Management Authority mencatat 1.410 orang meninggal dunia dan 13.756 orang berhasil diselamatkan. Sebanyak 6.145 orang masih hilang, termasuk 587 warga negara asing.
Sementara di sisi China, jumlah korban tewas tercatat 43 orang, dengan 519 orang masih hilang. Dari jumlah tersebut, 261 orang yang hilang merupakan warga asing di Tibet, wilayah yang oleh pemerintah China disebut sebagai Daerah Otonom Xizang.
Bencana tersebut terjadi pada 26 Agustus setelah gletser di Gunung Langtang Lirung, Nepal, retak pada ketinggian sekitar 5.200 meter.
Update Banjir Nepal, 6.150 Orang Masih Hilang
Korban Tewas Banjir Nepal Tembus 1.410 Orang, 5.650 Lainnya Masih Hilang
Korban Tewas Banjir Nepal Tembus 1.400 Orang, 5.800 Lainnya Masih Hilang
Retakan itu memicu longsoran es dan batu yang kemudian berubah menjadi aliran material besar. Aliran tersebut menerjang lembah-lembah di sepanjang kawasan perbatasan Nepal dan China.
Di Nepal, banjir dan longsor menghancurkan sejumlah wilayah, termasuk distrik Rasuwa, Nuwakot, Dhading, dan Kavre, serta kawasan Lembah Kathmandu.
Dampak bencana juga mencapai wilayah perbatasan China. Aliran material dan banjir menyebabkan pos lintas batas Gyirong di Xizang tertimbun.
Besarnya jumlah korban hilang membuat bencana tersebut masih menjadi tragedi besar di kedua sisi perbatasan. Di Nepal saja, lebih dari enam ribu orang belum diketahui keberadaannya, sementara ratusan lainnya masih tercatat hilang di sisi China.
Dengan total korban tewas yang telah mencapai 1.453 orang dan ribuan lainnya masih hilang, dampak banjir bandang dan longsor yang bermula dari retakan gletser tersebut terus menjadi perhatian di kawasan perbatasan Nepal-China. (*)
Sumber: Anadolu