Rabu, 16/09/2026 22:59 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan perang akan berlangsung “sangat singkat” jika negara-negara Eropa menyerang Rusia. Pernyataan tersebut disampaikan Lavrov saat menghadiri International Youth Festival di Yekaterinburg, Rusia, Rabu.
Lavrov menegaskan bahwa Rusia berulang kali menyatakan tidak memiliki rencana maupun kepentingan untuk menyerang negara-negara Eropa. Namun, ia memperingatkan konsekuensi berbeda jika Rusia menjadi sasaran serangan.
“Rusia telah berulang kali mengatakan bahwa kami tidak akan menyerang negara-negara Barat dan tidak memiliki kepentingan untuk melakukannya. Namun jika Eropa, yang secara rutin berbicara tentang persiapan perang melawan Rusia, menyerang Federasi Rusia, maka ini akan menjadi perang yang sama sekali berbeda dan akan sangat singkat,” kata Lavrov.
Menurut Lavrov, konfrontasi bukanlah metode yang digunakan Rusia. Ia mengatakan posisi tersebut telah berulang kali disampaikan oleh kepemimpinan Rusia, termasuk Presiden Vladimir Putin.
Kapal Dagang Iran Diserang, Menlu Iran dan Rusia Kutuk Tindakan Ukraina
Rusia akan Hancurkan Pejuang Asing dan Jenderal Barat di Ukraina
Menlu Lavrov: Rusia Tidak akan Pernah Lagi Terima Aturan AS
Lavrov juga menuding negara-negara Barat sejak lama memilih kebijakan untuk membendung Rusia. Ia mengaitkan kebijakan tersebut dengan apa yang disebutnya sebagai perluasan NATO secara paksa menuju perbatasan Rusia.
Pernyataan mengenai kemungkinan konflik dengan Eropa disampaikan ketika Lavrov mengkritik pernyataan sejumlah pemimpin Eropa tentang perlunya mempersiapkan diri menghadapi perang dengan Rusia. Menurutnya, isu tersebut telah menjadi salah satu tema utama di kalangan pemimpin politik Eropa di Brussels.
Lavrov turut memperingatkan bahwa pengerahan kontingen militer negara-negara Barat ke Ukraina akan dianggap sebagai deklarasi perang terhadap Rusia.
Di tengah pernyataannya mengenai potensi konflik dengan Eropa, Lavrov mengatakan Rusia tetap siap melakukan pembicaraan untuk menyelesaikan konflik Ukraina.
Ia menyatakan Moskow akan menunggu usulan mengenai dimulainya kembali perundingan, meski menambahkan bahwa Rusia tidak terlalu berharap terhadap prospek kemajuan dalam proses tersebut.
Mengenai lokasi perundingan, Lavrov mengatakan berbagai tempat dapat dipertimbangkan, termasuk Serbia, selama lokasi tersebut dapat diterima seluruh pihak yang terlibat.
Dalam kesempatan yang sama, Lavrov mengatakan Rusia sedang memeriksa informasi mengenai kemungkinan penempatan senjata Amerika Serikat di luar angkasa.
Lavrov juga menyinggung hubungan Rusia dan Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump. Menurutnya, dialog antara kedua negara sejauh ini belum menghasilkan perubahan nyata dalam bidang-bidang penting hubungan bilateral.
Sementara terkait hubungan Rusia dan Eropa pada masa mendatang, Lavrov mengatakan Moskow tidak akan kembali menjalin hubungan dekat dengan Eropa seperti periode setelah runtuhnya Uni Soviet.
Ia juga menegaskan Rusia tidak akan membuat kesepakatan dengan negara-negara Eropa dalam bidang yang menurut Moskow berkaitan dengan keamanan Rusia.
Lavrov turut menyinggung pemilihan parlemen Rusia yang dijadwalkan berlangsung pada 18-20 September. Ia mengatakan Rusia melihat upaya yang disebutnya sangat kuat dari negara-negara Barat untuk mencampuri proses pemilu dan memengaruhi kehendak pemilih Rusia selama masa kampanye.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari pandangan Lavrov mengenai hubungan Rusia dengan negara-negara Barat, yang menurutnya telah mengalami perubahan mendasar dan tidak akan kembali seperti periode sebelumnya. (*)
Sumber: Anadolu