Kamis, 10/09/2026 13:35 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Ribuan orang berunjuk rasa di ibu kota Slovenia, Ljubljana, memprotes pembukaan kedutaan besar Israel yang pertama di negara Uni Eropa tersebut.
Aksi protes pada Rabu ini terjadi di tengah langkah Perdana Menteri beraliran nasionalis Slovenia, Janez Jansa, yang mendorong pemulihan hubungan diplomatik dengan Israel.
Langkah ini berbanding terbalik n pendahulunya, Robert Golob, yang pemerintahannya secara tegas menyebut perang Israel di Gaza sebagai "genosida".
Jansa sendiri baru mulai menjabat pada Juli lalu.
Pelaku Penembakan Staf Kedubes Israel di AS Didakwa Hukuman Mati
Timur Tengah Membara, Iran Targetkan Kedutaan Besar Israel di Bahrain
Takut Virus Corona, Israel Tutup Kedubes di Athena
Di Ljubljana, ribuan pengunjuk rasa berpawai melewati hotel tempat peresmian kedutaan berlangsung. Mereka membawa spanduk-spanduk bertuliskan "Kami bersatu untuk perdamaian dan Palestina" serta "Genosida bukanlah pembelaan diri".
Urska Breznik (48), seorang sejarawan seni, menyebut pemerintahan Jansa sebagai pemerintah "kolaborasi". Pengunjuk rasa lainnya, Melina Sahernik, mengatakan kepada kantor berita AFP, "Ini membuat Slovenia terlihat sangat buruk."
Jajak pendapat yang dilakukan oleh surat kabar harian Delo pada Juni menunjukkan bahwa 56 persen warga Slovenia menentang hubungan yang lebih erat dengan Israel, sementara hanya 14 persen yang mendukungnya.
Analis politik Slovenia, Andraz Zorko, mengungkapkan kepada The Associated Press bahwa perubahan kebijakan pemerintah tidak sejalan dengan opini publik yang berlaku di negara berpenduduk sekitar 2 juta jiwa tersebut.
"Mayoritas publik Slovenia menentang Israel atau setidaknya berada dalam posisi netral," ujarnya.
Partai Gerakan Kebebasan yang beraliran liberal, dipimpin oleh mantan PM Golob, bergabung dengan Partai Kiri pada Rabu untuk mengajukan proposal pemakzulan terhadap Jansa ke parlemen. Langkah ini terutama dipicu oleh kebijakan luar negeri yang mereka sebut secara eksklusif hanya melayani kepentingan Israel.
Partai tersebut juga berupaya mendepak Menteri Luar Negeri Tone Kajzer, dan menggambarkan pembukaan kedutaan ini sebagai "balas budi" atas dugaan dukungan Israel terhadap Jansa selama pemilihan umum bulan Maret lalu.
Di bawah kepemimpinan Golob, Slovenia telah mengakui negara Palestina dan menjatuhkan embargo senjata terhadap Israel. Pemerintahan sebelumnya juga melarang impor dari permukiman ilegal Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat, serta mencekal masuknya pejabat tinggi Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Namun, begitu menjabat, Jansa segera mencopot bendera Palestina dari gedung pemerintah Slovenia, yang sebelumnya disandingkan dengan bendera Slovenia, Uni Eropa, dan Ukraina. Pemerintahannya pun dengan cepat mencabut semua sanksi terhadap negara Zionis tersebut.
Pada peresmian kedutaan, Menlu Kajzer menyatakan bahwa acara tersebut harus "menandai awal dari periode dialog yang lebih luas, kerja sama yang lebih kuat, dan di atas segalanya, hasil yang lebih nyata demi kepentingan rakyat kita", menurut unggahan kementeriannya di platform X.
Hadir langsung di Slovenia untuk acara tersebut, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar menyebutnya sebagai "hari bersejarah" dalam sebuah konferensi pers.
"Ini adalah ekspresi nyata dari komitmen Israel terhadap persahabatan kita dan masa depannya," tambah Saar, seraya berterima kasih kepada pemerintah Slovenia dan Jansa atas persahabatan mereka terhadap Israel.
Pembukaan kedutaan besar ini terjadi sehari setelah Inggris melarang perdagangan dengan permukiman ilegal Israel di Tepi Barat, disusul Prancis dan Kanada yang mengumumkan akan mengambil langkah serupa.
Langkah tersebut dipandang sebagai ekspresi simbolis ketidaksukaan terhadap Israel oleh beberapa sekutu terdekatnya, sekaligus menjadi tanda baru semakin terisolasinya pemerintah Israel secara global akibat perang genosida di Gaza.
Merespons rentetan sanksi Barat tersebut, Israel bereaksi keras dan menyatakan akan menutup konsulat Inggris di Yerusalem.
Sumber: Aljazeera
Keyword : Kedubes IsraelWarga SloveniaJanez Jansa