Selasa, 08/09/2026 21:35 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Minuman manis bukan hanya berkaitan dengan masalah berat badan dan kesehatan gigi. Studi terhadap lebih dari 112.000 orang dewasa di Amerika Serikat menemukan hubungan antara konsumsi minuman berpemanis setiap hari dan peningkatan risiko kanker lambung hingga sekitar 2,5 kali dibandingkan orang yang hampir tidak pernah mengonsumsinya.
Temuan ini menjadi perhatian karena kanker lambung merupakan salah satu kanker dengan dampak kematian terbesar di dunia. Namun, peneliti menegaskan studi tersebut belum membuktikan bahwa minuman manis secara langsung menyebabkan kanker lambung.
Penelitian dipimpin Andrew T. Chan, ahli gastroenterologi dan epidemiologi di Mass General Brigham Cancer Institute. Hasil lengkapnya diterbitkan dalam jurnal Gastro Hep Advances.
“Ini adalah studi pertama yang menunjukkan hubungan antara konsumsi minuman berpemanis dan kanker lambung pada populasi Amerika Serikat,” kata Chan.
Hobi Minuman Manis dan Kopi Kekinian? Waspada Masalah Ginjal!
Terlalu Sering Konsumsi Manis? Risiko Gagal Ginjal Mengintai
7 Minuman Manis yang Ternyata Sehat dan Penuh Nutrisi
Peneliti menganalisis data dari dua studi kesehatan jangka panjang, yakni Nurses’ Health Study yang dimulai pada 1976 dan Health Professionals Follow-Up Study yang melibatkan tenaga kesehatan pria sekitar satu dekade kemudian.
Sebanyak 112.284 orang menjadi bagian analisis dengan total 3,2 juta tahun pengamatan. Selama periode tersebut, 278 peserta didiagnosis mengalami kanker lambung.
Minuman yang diteliti mencakup soda, minuman buah, lemonade, dan minuman olahraga. Satu porsi didefinisikan sebagai sekitar 8 ons atau 240 mililiter.
Menariknya, peningkatan risiko terutama terlihat pada kelompok yang mengonsumsi minuman berpemanis setidaknya satu kali sehari. Mereka memiliki risiko kanker lambung sekitar 2,45 kali dibandingkan kelompok yang hampir tidak pernah mengonsumsi minuman tersebut.
Sementara itu, konsumsi satu hingga tiga kali per bulan, satu hingga tiga kali per minggu, hingga empat sampai tujuh kali per minggu tidak menunjukkan perbedaan risiko yang jelas dibandingkan kelompok dengan konsumsi paling rendah.
Peneliti juga melihat konsumsi minuman berkarbonasi rendah kalori atau versi diet. Hasilnya tidak menunjukkan peningkatan risiko kanker lambung pada tingkat konsumsi apa pun.
Pola tersebut tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan sejumlah faktor lain, termasuk berat badan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, diabetes, dan kualitas pola makan secara keseluruhan.
Namun, hasil ini bukan berarti pemanis buatan telah dipastikan aman. Penelitian tersebut hanya menemukan bahwa dalam kelompok dan periode yang dianalisis, minuman diet tidak menunjukkan hubungan yang sama dengan kanker lambung.
Ketika data dianalisis berdasarkan jenis kelamin, hubungan tersebut terlihat lebih kuat pada perempuan.
Perempuan yang mengonsumsi lebih dari satu minuman berpemanis setiap hari tercatat memiliki risiko kanker lambung sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan perempuan yang hampir tidak pernah mengonsumsi minuman tersebut.
Pada laki-laki, peningkatan risikonya mendekati dua kali lipat. Namun, hasil pada kelompok laki-laki lebih lemah sehingga kemungkinan pengaruh faktor kebetulan belum dapat sepenuhnya disingkirkan.
Peneliti juga mengingatkan bahwa jumlah kasus pada kelompok dengan konsumsi tertinggi relatif kecil. Hanya 13 perempuan dan 18 laki-laki dalam kelompok tersebut yang mengalami kanker lambung selama keseluruhan periode penelitian.
Karena itu, temuan berdasarkan jenis kelamin masih membutuhkan penelitian dengan jumlah kasus yang lebih besar. Peneliti kemudian melihat jumlah fruktosa yang dikonsumsi peserta dari seluruh sumber makanan dan minuman.
Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok dengan konsumsi fruktosa paling tinggi juga memiliki risiko kanker lambung lebih besar. Pola tersebut terlihat pada keseluruhan peserta dan kembali tampak ketika analisis difokuskan pada perempuan.
Meski demikian, temuan tersebut belum menjelaskan apakah fruktosa secara langsung berperan dalam perkembangan kanker lambung.
Salah satu faktor risiko kanker lambung yang paling dikenal adalah infeksi Helicobacter pylori. Bakteri ini dapat menetap di lapisan lambung dan menyebabkan peradangan dalam jangka panjang.
Peneliti juga mencoba melihat apakah konsumsi minuman manis berkaitan dengan infeksi bakteri tersebut. Sampel darah dari 940 peserta sebelumnya telah diperiksa untuk mengetahui keberadaan antibodi terhadap H. pylori.
Infeksi ditemukan pada 36,7 persen peserta perempuan dan 34 persen peserta laki-laki yang diperiksa. Namun, orang yang lebih banyak mengonsumsi minuman berpemanis tidak menunjukkan kemungkinan lebih tinggi terinfeksi bakteri tersebut.
Artinya, berdasarkan data penelitian ini, hubungan minuman manis dengan kanker lambung tidak tampak dijelaskan oleh meningkatnya infeksi H. pylori.
Pertanyaan terbesar yang masih belum terjawab adalah bagaimana minuman berpemanis mungkin berkaitan dengan kanker lambung.
Peneliti mengemukakan sejumlah kemungkinan yang sebelumnya juga dikaitkan dengan kanker lain, seperti kenaikan berat badan, resistensi insulin, gangguan hormon, peradangan, kerusakan DNA, dan perubahan keseimbangan mikroorganisme dalam tubuh.
Namun, mekanisme tersebut belum diuji secara langsung untuk menjelaskan kanker lambung dalam penelitian ini.
Keterbatasan lain juga perlu diperhatikan. Informasi mengenai infeksi H. pylori, lokasi tumor, riwayat kanker dalam keluarga, serta riwayat pemeriksaan lambung pada peserta tidak tersedia secara lengkap.
Penelitian ini menggunakan desain observasional. Artinya, peneliti mengamati kebiasaan konsumsi peserta dan kemudian melihat kaitannya dengan kejadian kanker, bukan memberikan minuman tertentu kepada peserta untuk menguji apakah minuman tersebut menyebabkan kanker.
Karena itu, masih mungkin terdapat faktor lain yang ikut memengaruhi risiko. Orang yang rutin mengonsumsi minuman manis, misalnya, dapat memiliki karakteristik atau kebiasaan lain yang tidak sepenuhnya dapat ditangkap melalui kuesioner makanan.
Selain itu, sebagian besar peserta merupakan tenaga kesehatan berusia 30–75 tahun dan mayoritas berkulit putih. Hasil penelitian ini belum dapat langsung digeneralisasikan kepada kelompok ras dan etnis lain atau orang yang mulai mengonsumsi minuman manis sejak usia lebih muda.
Peneliti menilai studi serupa perlu dilakukan pada populasi yang lebih beragam untuk memastikan apakah pola yang sama juga muncul di kelompok masyarakat lain.
Untuk saat ini, temuan tersebut memberikan sinyal epidemiologis, bukan bukti bahwa minuman manis secara langsung menyebabkan kanker lambung. Namun, karena konsumsi minuman berpemanis merupakan kebiasaan yang luas, hubungan tersebut dinilai layak diteliti lebih jauh.