Apakah Keracunan Makanan Bisa Bikin Amnesia?

Selasa, 08/09/2026 14:30 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa Febiola Beru Purba (16), seorang siswi SMK Swasta Bersama Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mendadak menyita perhatian publik.

Pasalnya, usai menyantap menu program Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada pertengahan Agustus lalu, Febiola tidak hanya mengeluhkan pusing dan muntah, tetapi juga mengalami kejang-kejang, penurunan kesadaran, hingga dugaan gangguan ingatan berat (amnesia).

Dilansir dari beberapa sumber, para pakar medis menjelaskan bahwa hilangnya ingatan pasca-keracunan makanan merupakan fenomena yang sangat langka.

Meski demikian, secara ilmiah terdapat beberapa jalur mekanisme biologis yang dapat menjelaskan bagaimana dampak racun atau respons tubuh terhadap keracunan dapat mengganggu fungsi otak.

1. Toksin Saraf (Neurotoxin) Memakan Sel Otak Secara Langsung

Secara medis, ada jenis patogen atau racun kimia tertentu pada makanan yang memiliki sifat neurotoksik—artinya secara spesifik menyerang dan merusak sistem saraf pusat.

Asam Domoat (Amnesic Shellfish Poisoning), salah satu racun makanan paling dikenal dalam literatur medis yang memicu amnesia adalah asam domoat.

Racun ini biasanya ditemukan pada hasil laut yang terkontaminasi mikroalga tertentu. Asam domoat secara agresif merusak hipokampus—wilayah otak yang berfungsi membentuk dan menyimpan ingatan baru.

Toksin Botulinum (Botulism), dihasilkan oleh bakteri Clostridium botulinum pada makanan kaleng atau olahan yang tidak steril. Racun ini mengganggu sinyal saraf dan pada tingkat keparahan tinggi dapat menyebabkan kejang, gangguan bicara, serta penurunan kesadaran sistemik.

2. Komplikasi Tubuh: Efek Domino Pasca-Keracunan Heavy

Sebagian besar kasus amnesia akibat keracunan makanan tidak terjadi karena racun menyerang jaringan otak secara langsung, melainkan akibat komplikasi fisik berat yang dialami penderita:

- Imbalans Elektrolit dan Kejang Hebat

Muntah dan diare berat yang terjadi berturut-turut menyebabkan tubuh kehilangan cairan serta mineral penting secara drastis (seperti natrium dan kalium).

Ketidakseimbangan elektrolit akut ini dapat memicu kelainan arus listrik di otak yang berujung pada kejang berulang. Pada fase pasca-kejang (post-ictal phase), penderita umumnya mengalami kebingungan (delirium), penurunan daya ingat sementara, hingga hilangnya kesadaran.

- Hipoksia Otak (Kekurangan Oksigen)

Saat seseorang mengalami kejang terus-menerus (status epileptikus) atau penurunan tekanan darah secara mendadak (syok toksik), pasokan oksigen menuju otak akan menurun drastis.

Area hipokampus pada otak sangat rentan terhadap kekurangan oksigen (hipoksia). Kerusakan pada jaringan ini, meski hanya kekurangan oksigen dalam kurun waktu singkat, dapat berakibat pada gangguan ingatan jangka pendek maupun panjang.

Untuk menentukan secara pasti penyebab amnesia pada kasus medis seperti ini, penanganan klinis dan uji penunjang menyeluruh mutlak diperlukan:

1. Uji Toksikologi & Mikrobiologi

Pemeriksaan sampel darah, urine, serta sisa makanan guna mendeteksi jenis bakteri, virus, atau racun kimia yang terpapar pada tubuh.

2. Electroencephalogram (EEG)

Perekaman aktivitas listrik otak untuk mendeteksi fokus kejang atau gangguan fungsi gelombang otak pasca-kejadian.

Pencitraan Otak (CT Scan / MRI): Evaluasi struktur fisik otak untuk mendeteksi adanya pembengkakan (edema), peradangan jaringan (ensefalitis), atau lesi pada hipokampus.

Keracunan makanan dapat berujung pada amnesia, baik melalui paparan langsung toksin saraf (neurotoxin) maupun melalui komplikasi klinis seperti kejang berulang, penurunan cairan tubuh secara ekstrem, serta berkurangnya pasokan oksigen ke otak.

Penyelidikan medis dan uji laboratorium medis mendalam menjadi kunci utama untuk memastikan penyebab pasti gangguan ingatan pada setiap penderita.

TERKINI
Dari Budak hingga Guru Tasawuf, Ini Perjalanan Rabiah al-Adawiyah Gunung-gunung Paling Bersejarah dalam Peradaban Islam Ini Tiga Gunung Paling Angker di Pulau Jawa Tujuh Gunung di Indonesia yang Tidak Boleh untuk Pendakian