Gigitan Ular Ternyata Tak Acak, Data 40 Tahun Ungkap Polanya

Selasa, 08/09/2026 12:34 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Gigitan ular selama ini mungkin terlihat seperti kecelakaan yang terjadi secara acak. Namun, tinjauan terhadap data selama hampir empat dekade menunjukkan bahwa korban gigitan ular justru terkonsentrasi pada pola tertentu, terutama di sekitar aktivitas pertanian, kaki yang tidak terlindungi, waktu siang hingga sore, dan wilayah yang jauh dari fasilitas kesehatan.

Temuan tersebut berasal dari penelitian yang menggabungkan 142 studi yang diterbitkan antara 1987 dan 2025. Secara keseluruhan, penelitian itu mencakup lebih dari 214.000 catatan kasus gigitan ular di Asia, Afrika, Amerika, Australia, dan Eropa.

Penelitian dipimpin Chandrashekhar Janakiram dari Amrita JBI Centre for Evidence Synthesis and Implementation. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa data tersebut belum dapat menentukan seberapa besar kebiasaan tertentu secara langsung meningkatkan risiko karena penelitian tidak membandingkan orang yang digigit dengan mereka yang tidak digigit.

Meski demikian, polanya terlihat cukup konsisten. Dari 47.892 catatan yang mencantumkan aktivitas korban ketika digigit, sebanyak 59,1 persen terjadi saat melakukan pekerjaan pertanian atau perkebunan.

Aktivitas tersebut mencakup membajak, menyiangi tanaman, memanen, mengairi lahan, hingga bekerja di perkebunan teh, kopi, karet, dan kelapa sawit.

Kelompok pekerjaan lain menyumbang 9,1 persen kasus, termasuk pekerja konstruksi, penebang kayu, pekerja penggergajian, dan pembuat batu bata. Sementara itu, 8,4 persen kasus terjadi ketika korban sedang berjalan.

Aktivitas menangkap, membunuh, atau menyelamatkan ular tercatat dalam 3,6 persen kasus. Sebanyak 2,4 persen lainnya terjadi ketika korban sedang beristirahat atau tidur.

Pola tersebut memperlihatkan bahwa paparan terhadap habitat ular dan aktivitas di luar ruangan menjadi bagian penting dalam risiko gigitan.

Lokasi gigitan juga menunjukkan pola yang sangat jelas. Dari 85.593 kasus yang mencatat bagian tubuh korban, sebanyak 79 persen gigitan terjadi pada tungkai bagian bawah.

Temuan ini sejalan dengan gambaran aktivitas korban yang sebagian besar berlangsung di lahan pertanian atau lingkungan terbuka.

Bagi orang yang bekerja di sawah, perkebunan, atau kawasan dengan vegetasi lebat, ular dapat bersembunyi di antara tanaman dan sulit terlihat sampai terjadi kontak jarak dekat. Risikonya semakin besar ketika kaki hanya menggunakan sandal atau bahkan tidak terlindungi.

Data penelitian juga menantang anggapan bahwa gigitan ular terutama terjadi pada tengah malam ketika orang sedang tidur.

Dari hampir 16.000 catatan yang mencantumkan waktu kejadian, sebanyak 39 persen gigitan berlangsung antara pukul 12.00 hingga 18.00. Sebanyak 29 persen lainnya terjadi antara pukul 18.00 hingga tengah malam.

Sebaliknya, hanya 12 persen kasus tercatat antara tengah malam hingga pukul 06.00. Jika data hanya dibagi menjadi siang dan malam, kasus pada siang hari sedikit lebih tinggi, yakni 52,6 persen berbanding 47,4 persen pada malam hari.

Dengan kata lain, periode ketika banyak orang bekerja atau bepergian justru menjadi salah satu waktu penting dalam pola gigitan ular. Waktu dalam sehari bukan satu-satunya faktor. Musim juga berpengaruh terhadap pola kejadian.

Jumlah gigitan cenderung meningkat selama musim hujan dan beberapa bulan setelahnya. Banjir dapat mengusir ular dari habitatnya, sementara pada saat yang sama aktivitas dan perpindahan manusia juga berubah.

Di Tamil Nadu, India, lebih dari 70 persen kasus dalam salah satu kumpulan data terjadi antara Juni dan September.

Pola tersebut menunjukkan bahwa risiko gigitan tidak hanya ditentukan oleh keberadaan ular, tetapi juga interaksi antara perubahan lingkungan, aktivitas manusia, dan kondisi musiman.

Dari 116.759 catatan yang berhasil mengidentifikasi jenis ular, kelompok viper dan pit viper menyumbang 85,12 persen kasus. Kobra tercatat dalam 2,84 persen kasus, sedangkan krait mencapai 1,9 persen.

Jenis ular yang terlibat sangat bergantung pada wilayah. Russell`s viper ditemukan dalam 51,3 persen catatan kasus dari India, sedangkan brown snake menyumbang 43,1 persen kasus di Australia.

Di Brasil, spesies dari kelompok Bothrops bahkan ditemukan dalam 90,4 persen kasus yang jenis ularnya diketahui.

Perbedaan tersebut penting dalam penanganan medis karena antivenom yang dibuat untuk satu kelompok ular belum tentu efektif terhadap bisa dari kelompok lainnya.

Jaideep C. Menon dari Amrita Institute of Medical Sciences, salah satu penulis penelitian, menyoroti persoalan lain yang sering luput dari perhatian: korban yang paling banyak terpapar ular justru kerap tinggal atau bekerja paling jauh dari rumah sakit yang mampu menangani gigitan berbisa.

Ia menggambarkan kondisi tersebut sebagai “inverse care law”, ketika kelompok dengan paparan risiko tertinggi justru memiliki akses paling rendah terhadap layanan kesehatan yang dibutuhkan.

Menurut Menon, persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan menyediakan antivenom. Obat penawar bisa berada di rumah sakit, sementara korban mungkin membutuhkan waktu lama untuk mencapainya.

Keterlambatan diagnosis dan pengobatan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan beratnya dampak gigitan ular.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 5,4 juta orang mengalami gigitan ular setiap tahun di seluruh dunia, dengan 81.000 hingga 138.000 kematian.

India menyumbang hampir separuh dari beban tersebut, dengan perkiraan sekitar 58.000 kematian per tahun.

Di sejumlah wilayah, kondisi rumah juga dapat meningkatkan kemungkinan kontak dengan ular. Lantai tanah, atap jerami, dan ventilasi terbuka dapat memungkinkan ular masuk ke ruang tempat keluarga tidur.

Salah satu penelitian di Bangladesh bahkan menemukan bahwa tidur di lantai berkaitan dengan risiko gigitan lebih dari empat kali lipat.

Bagi korban yang hidup dengan keterbatasan ekonomi, persoalannya tidak berhenti pada gigitan. Biaya pengobatan dan perjalanan menuju fasilitas kesehatan dapat menambah beban keluarga, sementara sebagian korban memilih mencari pertolongan dari penyembuh tradisional karena biaya yang harus dikeluarkan untuk layanan medis.

WHO memiliki target mengurangi separuh jumlah kematian akibat gigitan ular pada 2030. Peta jalan tersebut mencakup pemberdayaan masyarakat, memastikan akses terhadap pengobatan yang aman, memperkuat sistem kesehatan, serta membangun kemitraan.

Menon menilai edukasi masyarakat merupakan salah satu langkah yang berpotensi memberikan dampak cepat.

Edukasi dapat dimulai dari sekolah dan kemudian disesuaikan dengan jenis pekerjaan. Pekerja perkebunan, misalnya, membutuhkan informasi mengenai risiko di lahan, sementara pekerja penggergajian menghadapi kondisi yang berbeda.

Peralatan sederhana juga dapat membantu mengurangi paparan, seperti menggunakan sepatu bot alih-alih sandal dan membawa senter ketika berada di luar rumah setelah gelap. Pengetahuan mengenai pertolongan pertama dan tindakan yang harus dihindari setelah gigitan juga menjadi bagian penting.

Meski cakupan penelitian sangat luas, lebih dari 60 persen studi yang dianalisis berasal dari India. Kondisi tersebut membuat hasil penelitian belum bisa menggambarkan pola setiap negara secara terpisah dengan tingkat kepastian yang sama.

Perbedaan cara pencatatan juga membuat para peneliti kesulitan memecah seluruh temuan berdasarkan negara.

Bukti mengenai efektivitas langkah pencegahan sederhana seperti penggunaan alas kaki dan pencahayaan yang lebih baik juga masih terbatas. Para peneliti membutuhkan studi jangka panjang yang mengikuti komunitas yang sama untuk mengetahui apakah penggunaan sepatu atau senter benar-benar menurunkan jumlah gigitan.

Tantangan lain muncul karena perubahan iklim dapat mendorong ular berbisa memasuki wilayah baru, sehingga pola paparan berpotensi berubah.

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLOS Neglected Tropical Diseases memberikan gambaran bahwa gigitan ular bukan sekadar kecelakaan yang datang tanpa pola.

Petani dan pekerja luar ruangan menghadapi paparan lebih tinggi, sebagian besar gigitan terjadi pada kaki atau tungkai bawah, periode siang hingga sore menjadi waktu yang penting, dan musim hujan dapat mengubah risiko.

Namun, risiko tersebut juga beririsan dengan persoalan akses layanan kesehatan. Orang yang paling sering berada di habitat ular justru dapat tinggal paling jauh dari fasilitas yang mampu memberikan penanganan cepat.

Karena itu, pencegahan tidak hanya bergantung pada antivenom. Mengenali pola paparan, menggunakan perlindungan yang sesuai, meningkatkan pengetahuan masyarakat, dan mempercepat akses korban ke fasilitas kesehatan menjadi bagian penting dalam mengurangi dampak gigitan ular. (*)

Sumber: Earth

TERKINI
Dari Budak hingga Guru Tasawuf, Ini Perjalanan Rabiah al-Adawiyah Gunung-gunung Paling Bersejarah dalam Peradaban Islam Ini Tiga Gunung Paling Angker di Pulau Jawa Tujuh Gunung di Indonesia yang Tidak Boleh untuk Pendakian