Jum'at, 04/09/2026 08:57 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam pembunuhan dua warga sipil Palestina di Tepi Barat yang diduduki dan mendesak otoritas Israel mengambil tindakan terhadap pihak yang bertanggung jawab atas kekerasan tersebut.
Juru Bicara PBB Stephane Dujarric menyebut kematian Omar al-Naasan (19) dan Khalil Shehada (16) di Desa Al-Mughayyir sebagai peristiwa yang mengejutkan. Ia menegaskan PBB mengutuk pembunuhan warga sipil Palestina tersebut.
Dujarric juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya kekerasan yang dilakukan pemukim Israel terhadap warga Palestina, termasuk serangan terhadap masyarakat, properti, dan kehidupan sehari-hari mereka.
Menurut Dujarric, otoritas Israel memiliki kewajiban untuk mencegah kekerasan berlanjut serta memastikan pihak yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban.
PBB Prediksi Pemanasan Global Tembus 1,5 Derajat Celsius
5.209 Orang Israel Serbu Al-Aqsa Selama Agustus, 2 Warga Palestina Tewas
Banjir Nepal Tewaskan 160 Orang, PBB Kerahkan Bantuan Logistik dan Personel
“Pemerintah Israel harus melakukan apa yang diperlukan untuk memenuhi kewajibannya dan membawa pihak yang bertanggung jawab atas kekerasan ini ke hadapan hukum,” kata Dujarric kepada wartawan
Selain kekerasan di Tepi Barat, PBB menyoroti kondisi kemanusiaan di Gaza yang masih memburuk.
Tim kemanusiaan PBB telah mengumpulkan ratusan palet bantuan dari perlintasan Kerem Shalom atau Abu Salem. Bantuan tersebut antara lain mencakup popok dewasa, tas sekolah, makanan untuk bayi, dan kebutuhan anak-anak.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sejak Oktober 2023, PBB bersama mitranya telah membantu evakuasi medis lebih dari 13.000 pasien dari Gaza, termasuk lebih dari 6.000 anak-anak.
Namun, ribuan pasien masih membutuhkan perawatan medis khusus yang belum tersedia di Gaza.
WHO mendesak pembukaan kembali jalur rujukan medis dari Tepi Barat, termasuk akses menuju rumah sakit di Yerusalem Timur. Ambulans dan peralatan medis yang saat ini masih dibatasi masuk ke Gaza juga diminta segera diizinkan.
Juru bicara PBB itu juga mengatakan persiapan menghadapi musim hujan dan musim dingin menjadi salah satu prioritas utama di Gaza.
Muhannad Hadi, koordinator kemanusiaan PBB untuk wilayah Palestina yang diduduki, menekankan kebutuhan tambahan dukungan dari para donor selama kunjungannya selama tiga hari ke Gaza.
PBB juga meminta pembatasan Israel terhadap masuknya peralatan penting untuk persiapan menghadapi musim hujan dan musim dingin dicabut.
Kondisi ini menjadi semakin penting karena kebutuhan dasar masyarakat Gaza masih sangat besar, sementara akses terhadap bantuan dan layanan kesehatan tetap menghadapi berbagai kendala.
PBB turut menyampaikan perkembangan situasi di Lebanon. Pasukan Penjaga Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) mencatat peningkatan kekerasan pada Agustus.
Pada 2 September, UNIFIL mendeteksi 84 proyektil Israel, meningkat dibandingkan 56 proyektil yang tercatat sehari sebelumnya.
Di sisi lain, Dujarric mengatakan pasukan penjaga perdamaian PBB tidak mendeteksi peluncuran proyektil oleh Hezbollah sejak 21 Juni.
PBB kembali menyerukan agar pasukan Israel menarik diri dari posisi di sebelah utara Garis Biru (Blue Line). Menurut PBB, keberadaan pasukan di wilayah tersebut berkaitan dengan pelanggaran Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 serta menyangkut kedaulatan dan integritas wilayah Lebanon. (*)
Sumber: Anadolu