Belajar dari China, Anggota DPR Dorong Strategi Baru Tangani Karhutla

Kamis, 03/09/2026 11:16 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo meminta pemerintah mengubah strategi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan mengutamakan pencegahan dan deteksi dini.

Menurut dia, pemerintah tidak boleh hanya mengandalkan pemadaman setelah kebakaran meluas. Terlebih, kondisi cuaca ekstrem dan meningkatnya titik api di sejumlah wilayah berpotensi memperparah karhutla.

“Prinsip utama itu cegah duluan, baru padamkan. Jangan kebalik. Kalau sudah telanjur besar, biayanya mahal, asapnya ke mana-mana, rakyat yang rugi,” tegas Firman dalam keterangannya, Rabu (3/9).

Firman mengatakan pemerintah dapat mempelajari strategi China dalam menangani kebakaran hutan di tengah kondisi cuaca ekstrem. Menurutnya, terdapat tiga langkah yang perlu diperkuat Indonesia, yakni pencegahan, deteksi cepat, dan respons bersama.

Pertama, kata dia, pemerintah harus memperkuat upaya pencegahan dengan melarang secara tegas pembukaan lahan menggunakan api. Edukasi kepada masyarakat di sekitar kawasan hutan juga perlu ditingkatkan.

Kedua, sistem deteksi dini harus diperkuat agar titik api dapat diketahui sedini mungkin. Firman mencontohkan penggunaan kamera pemantau selama 24 jam untuk mendeteksi kemunculan api sehingga dapat segera ditangani sebelum membesar.

“Begitu ada titik api, ketahuan hanya dalam 12 menit. Api kecil langsung dipadamkan,” ujarnya.

Sementara itu, apabila kebakaran telanjur membesar, Firman meminta penanganan dilakukan secara terpadu dengan menggabungkan kekuatan darat dan udara.

Penggunaan teknologi seperti drone dan helikopter, menurutnya, perlu dipadukan dengan pengerahan personel dalam jumlah besar agar kebakaran dapat segera dikendalikan.

Firman mencontohkan penanganan kebakaran hutan di Chongqing, China, pada 2022. Saat itu, lebih dari 20 ribu orang disebut terlibat dalam upaya pemadaman hingga api berhasil dikendalikan dalam waktu 10 hari tanpa korban jiwa.

“Contohnya kebakaran Chongqing tahun 2022. Lebih dari 20 ribu orang bahu-membahu. Berhasil dipadamkan dalam 10 hari dan tanpa korban jiwa,” katanya.

Selain strategi teknis, Firman menilai semangat gotong royong masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menghadapi bencana kebakaran.

Dia mencontohkan istilah 加油 (jiā yóu) yang lazim digunakan masyarakat China sebagai bentuk dukungan dan penyemangat.

Secara harfiah, 加 berarti menambah dan 油 berarti minyak. Namun, dalam penggunaan sehari-hari, istilah tersebut menjadi ungkapan untuk memberikan semangat kepada orang lain, termasuk ketika menghadapi musibah.

“Kata ini dipakai untuk nyemangatin orang saat kerja, bertanding, atau saat ada musibah seperti kebakaran. Ini semangat yang harus kita punya juga,” kata politikus dari daerah pemilihan Jawa Tengah tersebut.

Lebih lanjut, Firman mendesak pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta pemerintah daerah memperkuat tiga lapis pertahanan dalam menghadapi karhutla.

Lapis pertama adalah pencegahan melalui penegakan hukum yang lebih ketat, sosialisasi kepada masyarakat desa, serta pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan.

Lapis kedua berupa penguatan deteksi dini dengan menambah menara pemantau dan kamera pengawas di kawasan hutan. Pemerintah juga diminta menyediakan aplikasi pelaporan cepat yang dapat melibatkan masyarakat.

Sedangkan lapis ketiga adalah penguatan respons melalui latihan gabungan TNI, Polri, BPBD, dan Masyarakat Peduli Api (MPA).

Pemerintah juga diminta memastikan ketersediaan logistik serta kesiapan drone dan helikopter sebelum memasuki puncak musim kemarau.

“Dari tiga kunci itu, yang paling penting adalah cegah duluan. Karena mencegah itu paling murah dan paling menyelamatkan. Deteksi dan bergerak bareng itu untuk jaga-jaga kalau pencegahan kecolongan,” pungkas Firman.

 

 

 

TERKINI
Pemerintah Diminta Perkuat Anggaran Perlindungan Perempuan dan Anak Komisi III: Judi Online Berpotensi Masuk Sasaran Perampasan Aset Komisi III: Pembahasan RUU Perampasan Aset Masih Dinamis Belajar dari China, Anggota DPR Dorong Strategi Baru Tangani Karhutla