Senin, 31/08/2026 16:29 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Golkar Muhammad Sarmuji menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU periode 2026-2031.
Dia berharap kepemimpinan baru PBNU mampu menjaga persatuan bangsa sekaligus merajut kembali kebersamaan di internal NU setelah pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU.
“Tentunya kami menyampaikan selamat kepada Kiai Miftach dan Gus Kikin. Kami yakin Kiai Miftach dan Gus Kikin bisa membawa NU untuk terus menjaga persatuan bangsa,” kata Sarmuji dalam keterangan resminya, Senin (31/8).
Legislator PDIP: Desil Semestinya Tak Jadi Tolak Ukur PIP dan KIP Kuliah
Legislator PDIP Soroti 37 Persen Anggaran Kemenpar Tersedot Poltekpar
Komisi III Kawal RUU Perampasan Aset agar Tak Jadi Alat Kekuasaan
Menurut dia, kepengurusan PBNU yang baru memiliki tugas penting untuk menyatukan kembali berbagai faksi yang sempat berbeda pandangan dalam proses Muktamar.
Ia meyakini Gus Kikin dapat menjadi sosok yang menjembatani berbagai kelompok di internal NU dan mengedepankan sikap akomodatif.
“Kami yakin Gus Kikin bisa menjadi sosok yang akomodatif, merangkul semua kelompok di PBNU yang mungkin sempat memanas karena Muktamar,” ujarnya.
Sarmuji mengaku mengenal Gus Kikin sebagai sosok yang bijaksana dan dapat menjadi teladan. Karena itu, ia optimistis kepemimpinan Gus Kikin bersama KH Miftachul Akhyar mampu membawa NU menjadi organisasi yang guyub dan teduh bagi seluruh warga Nahdliyin.
“Saya berharap NU terus menjadi kabar gembira bagi bangsa Indonesia dan warga Nahdliyin bisa bangga menjadi anggotanya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Sarmuji berharap PBNU di bawah kepemimpinan baru tetap konsisten menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sekaligus memperkuat kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI itu menilai suksesi kepemimpinan PBNU memiliki arti strategis bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, NU dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat moderasi beragama dan menjaga keutuhan bangsa.
“NU adalah pilar kebangsaan. Siapa pun yang memimpin PBNU otomatis mengemban tanggung jawab menjaga wajah Islam Indonesia yang toleran dan moderat, sekaligus menjadi mitra strategis negara dalam merawat NKRI,” ujar Sarmuji.
Selain aspek keagamaan dan kebangsaan, Sarmuji berharap kepengurusan baru PBNU memberikan perhatian lebih terhadap penguatan ekonomi umat, khususnya melalui kemandirian ekonomi pesantren.
Menurutnya, jaringan pesantren NU yang tersebar di berbagai daerah memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi kerakyatan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tingkat akar rumput.
“Kami berharap kepengurusan baru PBNU dapat semakin mendorong kemandirian ekonomi pesantren dan umat, sehingga NU tidak hanya menjadi kekuatan moral-keagamaan, tapi juga motor penggerak kesejahteraan masyarakat di tingkat akar rumput,” tuturnya.
Diketahui, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031.
Penetapan Gus Kikin dilakukan melalui musyawarah majelis Ahlul Halli wal ’Aqdi (AHWA) dalam Muktamar Ke-35 NU. Nama Gus Kikin kemudian mendapat persetujuan dari Rais Aam terpilih, KH Miftachul Akhyar.
Sebelum ditetapkan melalui mekanisme AHWA, Gus Kikin juga memperoleh dukungan terbanyak dalam penjaringan bakal calon Ketua Umum PBNU. Ia meraih 472 suara dari unsur Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU).