Jum'at, 28/08/2026 09:30 WIB
Beijing, Jurnas.com - China mengecam keras rencana Amerika Serikat (AS) yang tengah mempertimbangkan penerapan tarif tambahan sebesar 7,5 persen terhadap barang impor dari Negeri Tirai Bambu.
Beijing menilai kebijakan tersebut mencerminkan praktik proteksionisme dan politisasi hubungan ekonomi.
Pemerintah China bahkan memperingatkan akan mengambil langkah yang diperlukan apabila Washington tetap melanjutkan rencana tersebut.
Juru Bicara Kementerian Perdagangan China, Huang Ling, mengatakan Beijing menolak keras rencana tarif tambahan itu. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers rutin di Beijing, pada Kamis (27/8).
Banjir Bandang Nepal-Tibet, 900 Wisatawan Asing Hilang
Iran Tuntut AS Bayar Ganti Rugi atas Dampak Sanksi Ekonomi
Iran Sampaikan Syarat soal Selat Hormuz ke AS Lewat Pakistan
“Amerika Serikat telah mempolitisasi persoalan ekonomi dan perdagangan. Ini merupakan bentuk khas dari tindakan sepihak dan proteksionisme. China dengan tegas menentangnya,” ujar Huang dikutip dari Anadolu pada Jumat (28/8).
Menurut Huang, persoalan kapasitas produksi tidak semestinya dijadikan dasar untuk menerapkan kebijakan perdagangan yang bersifat proteksionis.
“Kapasitas produksi harus dinilai secara komprehensif, objektif, dan adil. Kapasitas produksi tidak boleh dijadikan alasan untuk menerapkan kebijakan proteksionis,” katanya.
Huang juga menegaskan bahwa pemerintah China akan mencermati perkembangan kebijakan perdagangan AS.
“Kami akan terus memantau dengan ketat dan mengevaluasi secara menyeluruh langkah-langkah yang akan diambil Amerika Serikat. China berhak mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi kepentingannya,” ujar Huang.
Pernyataan Beijing tersebut muncul setelah muncul laporan bahwa pemerintahan AS sedang mempertimbangkan tarif tambahan sebesar 7,5 persen terhadap sejumlah barang impor dari China.
Kebijakan tersebut disebut berkaitan dengan dugaan kelebihan kapasitas manufaktur China yang dinilai berpotensi mengganggu persaingan perdagangan internasional.
Meski demikian, besaran tarif akhir yang akan diterapkan Washington hingga kini belum ditetapkan.
Rencana tersebut berkaitan dengan penyelidikan berdasarkan Pasal 301 yang diluncurkan Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat pada Maret. Penyelidikan itu mencakup praktik manufaktur China serta 15 negara atau perekonomian lainnya.
Beijing menolak tuduhan mengenai adanya kelebihan kapasitas industri. Pemerintah China berpendapat bahwa produksi suatu negara tidak dapat dinilai hanya berdasarkan tingkat konsumsi di dalam negeri.
Menurut China, kapasitas produksi dan permintaan harus dilihat dalam konteks pasar global. Dengan demikian, produksi yang melebihi kebutuhan domestik tidak otomatis dapat dikategorikan sebagai kelebihan kapasitas.
China juga menilai perdagangan internasional harus mempertimbangkan hubungan antara produksi, permintaan, dan kebutuhan pasar di berbagai negara.
Ketegangan terbaru ini menambah daftar perselisihan perdagangan antara Beijing dan Washington. Persoalan tarif serta kebijakan industri berpotensi kembali menjadi isu utama dalam hubungan ekonomi kedua negara.
Jika AS benar-benar memberlakukan tarif tambahan, China telah memberikan sinyal bahwa Beijing tidak akan tinggal diam dan siap menggunakan langkah yang dianggap perlu untuk merespons kebijakan Washington.