Rabu, 26/08/2026 23:34 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Indonesia, Malaysia, dan Singapura menegaskan komitmen bersama untuk menjaga Selat Malaka dan Selat Singapura tetap terbuka serta aman bagi pelayaran internasional.
Penegasan ini disampaikan menyusul berakhirnya Forum Kerja Sama Navigasi Selat Malaka dan Singapura ke-17 di Singapura pada Rabu (26/8/2026).
Forum multilateral yang dihadiri lebih dari 125 negara dan organisasi internasional tersebut berfokus pada penguatan keselamatan navigasi, serta perlindungan lingkungan laut di sepanjang koridor pelayaran strategis tersebut.
Selat Malaka dan Selat Singapura membentuk jalur pelayaran vital sepanjang 900 km yang menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Jalur ini dilintasi lebih dari 100.000 kapal per tahun, membawa sekitar 25 persen perdagangan global serta sepertiga dari total pasokan minyak dan gas dunia.
Jepang Dukung Rencana Jalur Pipa Minyak di Timur Tengah
Selat Hormuz Tetap Ditutup Selama Perundingan Jalur Transit
Menlu Iran: Sanksi Jadi Bukti AS Mulai Frustasi dengan Perang
Dalam pernyataan bersama, ketiga negara tetangga tersebut mempertegas komitmen untuk memastikan kawasan perairan tersebut tetap bebas, terbuka, dan aman bagi armada kapal internasional, sebagaimana dikutip dari Arab News.
Langkah ini diambil guna merespons kekhawatiran global atas potensi gangguan jalur pelayaran, menyusul krisis energi di Asia akibat kelumpuhan Selat Hormuz pascaoperasi militer AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari lalu.
Menteri Perhubungan Singapura Jeffrey Siow menekankan pentingnya menjaga stabilitas perairan di tengah ketegangan geopolitik global.
"Peristiwa di Timur Tengah tahun ini mengingatkan dunia bahwa jalur laut yang terbuka tidak pernah bisa dianggap sebagai sesuatu yang pasti," ujar Siow.
Menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA), Selat Malaka merupakan titik penyempitan (chokepoint) transit minyak terbesar di dunia, mengungguli Selat Hormuz. Pada paruh pertama 2025, sekitar 23 juta barel minyak per hari melintasi Selat Malaka, menyumbang 29 persen dari total aliran minyak jalur laut global.
Siow menambahkan bahwa volume lalu lintas kapal di Selat Hormuz kini melonjak turun hingga kurang dari sepersepuluh dari tingkat sebelum konflik. Oleh karena itu, kolaborasi antarnegara berbasis hukum internasional seperti UNCLOS menjadi krusial untuk menjaga kelancaran rantai pasok global.