Minggu, 23/08/2026 18:05 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Perubahan iklim diperkirakan meningkatkan risiko penyakit diare pada anak-anak di Afrika sub-Sahara. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa akses terhadap air bersih, listrik, transportasi, hingga kondisi ekonomi rumah tangga dapat membantu mengurangi dampak tersebut.
Temuan ini berasal dari penelitian yang dipimpin Center for Vaccine Development and Global Health di University of Maryland School of Medicine (UMSOM).
Dikutip dari Earth, studi tersebut menganalisis bagaimana perubahan suhu dan pola curah hujan memengaruhi risiko diare pada anak, sekaligus melihat faktor rumah tangga yang dapat membantu mereka menghadapi tekanan lingkungan.
Penyakit diare menjadi persoalan serius bagi anak-anak. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diare merupakan salah satu penyebab utama malnutrisi pada anak kecil dan menjadi penyebab kematian ketiga terbesar pada anak berusia di bawah lima tahun secara global.
Akhir Abad, Dua Pertiga Penduduk Dunia Terancam Krisis Air Bersih
Super El Nino Berpotensi Picu Perubahan Iklim Permanen: Kita Perlu Waspada
Perubahan Iklim Ancam Produksi Padi Global, Peneliti Temukan Risiko Besar
Virus, bakteri, dan parasit penyebab diare cenderung berkembang dalam kondisi yang lebih hangat dan basah. Ketika suhu bumi meningkat dan pola hujan semakin sulit diprediksi, penyebaran sejumlah patogen tersebut dikhawatirkan ikut meluas.
Salah satu perkiraan bahkan menyebut perubahan iklim dapat menyebabkan tambahan sekitar 48.000 kematian anak pada 2030 akibat penyakit diare yang dipengaruhi perubahan iklim, dengan Afrika sub-Sahara dan Asia Selatan menjadi wilayah yang paling terdampak.
Untuk memahami faktor yang memengaruhi risiko tersebut, peneliti menganalisis lebih dari 9.300 kasus diare sedang hingga berat pada anak berusia di bawah lima tahun di Mali, Kenya, dan Gambia.
Data berasal dari Global Enteric Multicenter Study dan penelitian lanjutannya, Vaccine Impact on Diarrhea in Africa.
Peneliti secara khusus melihat empat patogen utama penyebab diare, yakni Cryptosporidium, Shigella, rotavirus, dan Escherichia coli enterotoksigenik atau ETEC.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak memberikan dampak yang sama terhadap semua penyakit diare. Faktor yang paling berpengaruh juga berbeda berdasarkan lokasi dan jenis patogen.
"Perubahan iklim tidak memengaruhi semua penyakit diare secara sama," kata Megan Kowalcyk, penulis utama penelitian sekaligus peneliti di Center for Vaccine Development.
Menurutnya, risiko penyakit tidak hanya ditentukan oleh suhu dan pola hujan, tetapi juga oleh kemampuan keluarga untuk beradaptasi dan menghadapi tekanan lingkungan.
Di Kenya, suhu menjadi faktor utama yang berkaitan dengan infeksi Shigella, Cryptosporidium, dan ETEC.
Sementara di Mali dan Gambia, curah hujan memiliki pengaruh lebih besar terhadap infeksi rotavirus, Cryptosporidium, dan ETEC.
Cryptosporidium menunjukkan pola yang berbeda. Meski suhu diproyeksikan meningkat tajam hingga 2055, hubungan antara infeksi patogen tersebut dan curah hujan relatif terbatas di ketiga negara yang diteliti.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa strategi menghadapi penyakit akibat perubahan iklim tidak bisa dibuat dengan pendekatan yang sama untuk seluruh wilayah.
Salah satu temuan penting penelitian adalah peran kondisi rumah tangga dalam menghadapi risiko penyakit.
Anak-anak dari keluarga yang memiliki akses terhadap transportasi, listrik, atau bahkan televisi cenderung memiliki risiko yang lebih rendah terhadap dampak perubahan iklim pada sejumlah patogen dibandingkan anak dari keluarga tanpa akses tersebut.
Akses terhadap air minum bersih memberikan pengaruh yang sangat jelas, terutama terhadap Cryptosporidium.
Model penelitian menunjukkan bahwa ketika akses terhadap air bersih menurun, jumlah kasus Cryptosporidium diproyeksikan meningkat secara signifikan di ketiga negara seiring perubahan iklim.
Sebaliknya, ketika akses terhadap air bersih membaik, jumlah kasus yang diproyeksikan menurun.
Televisi tentu tidak secara langsung mencegah infeksi parasit. Namun, peneliti menilai kepemilikan televisi, akses transportasi dan listrik dapat menjadi penanda kemampuan ekonomi serta kapasitas rumah tangga dalam menghadapi kondisi sulit.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa suhu dan lokasi bukan satu-satunya faktor yang menentukan risiko kesehatan akibat perubahan iklim.
Direktur Center for Vaccine Development, Stefan Kappe, mengatakan bahwa penguatan ketahanan terhadap perubahan iklim membutuhkan kombinasi intervensi kesehatan masyarakat, pembangunan infrastruktur, pengembangan ekonomi dan perluasan akses terhadap vaksin yang dapat menyelamatkan nyawa.
Dengan kata lain, perlindungan anak dari penyakit yang dipicu perubahan iklim tidak hanya bergantung pada layanan medis.
Ketimpangan ekonomi dan keterbatasan infrastruktur dapat menentukan seberapa besar kemampuan sebuah keluarga melindungi anak ketika menghadapi panas, perubahan curah hujan, gangguan akses air atau kondisi lingkungan lainnya.
Peneliti menilai hasil studi dapat membantu pemerintah dan perencana kesehatan menentukan wilayah serta jenis intervensi yang perlu diprioritaskan.
Pemodelan yang digunakan memberikan gambaran mengenai faktor iklim yang paling berpengaruh terhadap patogen tertentu di lokasi tertentu. Informasi tersebut dapat digunakan untuk menyusun strategi yang lebih spesifik daripada sekadar mengandalkan pendekatan umum.
Mark T. Gladwin, Dekan UMSOM, mengatakan analisis tersebut memberikan gambaran berdasarkan lokasi dan jenis patogen mengenai faktor yang sebenarnya mendorong risiko penyakit.
Menurutnya, munculnya akses transportasi sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan perlindungan dari penyakit akibat perubahan iklim menunjukkan bahwa mobilitas dan stabilitas ekonomi bukan sekadar faktor tambahan dalam strategi kesehatan iklim.
Temuan ini memperkuat bukti bahwa perubahan iklim berpotensi memperlebar kesenjangan kesehatan, terutama di komunitas dengan sumber daya terbatas di Afrika sub-Sahara.
Ketika suhu terus meningkat dan pola hujan semakin sulit diprediksi, mengetahui anak-anak mana yang paling rentan dan faktor yang membuat mereka lebih terlindungi menjadi semakin penting. (*)
Penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications.
Sumber: Earth
Keyword : Perubahan IklimPenyakit DiareAir Bersih