Sabtu, 15/08/2026 16:00 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Gigitan nyamuk yang selama ini dikenal sebagai penyebar malaria ternyata berpotensi dimanfaatkan untuk melatih sistem kekebalan tubuh melawan penyakit tersebut.
Dalam studi pada tikus, peneliti menghentikan perkembangan parasit malaria di hati tepat sebelum masuk ke aliran darah sehingga sistem imun mendapat kesempatan mengenali lebih banyak bagian parasit.
Dikutip dari Earth, pendekatan yang dikembangkan tim dari Walter and Eliza Hall Institute of Medical Research (WEHI), Australia, disebut kemovaksinasi (chemovaccination). Metode ini menggabungkan paparan parasit dengan obat yang menghentikan perkembangannya pada tahap tertentu.
Malaria masih menjadi salah satu penyakit infeksi yang paling mematikan. Data yang digunakan dalam penelitian menyebutkan malaria menyebabkan sekitar 282 juta kasus dan 610.000 kematian pada 2024, dengan Afrika menanggung sebagian besar beban penyakit tersebut.
Studi: Malaria Tentukan Pola Permukiman Manusia Purba Selama 74.000 Tahun
Mengenal Gejala Awal Penyakit Malaria dan Cara Mencegahnya
Studi: Nyamuk Melacak Bau Manusia Seperti GPS untuk Memilih Korban
Infeksi malaria dimulai ketika nyamuk yang membawa parasit menyuntikkan bentuk awal parasit yang disebut sporozoit ke kulit.
Parasit kemudian bergerak menuju hati dan masuk ke dalam sel hati. Di sana, parasit berkembang biak selama beberapa hari sebelum keturunannya masuk ke aliran darah, menyerang sel darah merah dan memicu penyakit.
Tahap perkembangan di hati inilah yang menjadi sasaran penelitian. Peneliti menggunakan dua senyawa, WM382 dan MK-7602, dalam percobaan terhadap tikus yang terpapar parasit malaria Plasmodium berghei.
Kedua senyawa tersebut menghambat enzim parasit plasmepsin IX dan plasmepsin X. Enzim ini berperan dalam tahapan penting yang memungkinkan parasit keluar dari sel hati dan kemudian menginfeksi sel darah merah.
Dengan menghambat kedua enzim tersebut, parasit dapat berkembang di hati tetapi tidak mampu melanjutkan siklus infeksi ke dalam darah.
Pendekatan tersebut membuat parasit berkembang cukup jauh di hati sebelum dihentikan. Ketika parasit kemudian terurai, sistem kekebalan tubuh terpapar lebih banyak antigen atau bagian parasit yang dapat dikenali sebagai ancaman.
“Dengan senyawa obat baru ini, kami menemukan cara mengubah gigitan nyamuk—hal yang justru menyebarkan malaria—menjadi peristiwa vaksinasi pada tikus,” kata Profesor Justin Boddey.
Dalam salah satu kelompok tikus, satu kali paparan yang kemudian diberikan WM382 mampu mencegah infeksi darah yang terdeteksi ketika hewan tersebut kembali menghadapi malaria beberapa bulan kemudian.
Sebagian tikus bahkan tetap terlindungi hingga 21 bulan setelah paparan sebelumnya.
Paparan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi juga menghasilkan perlindungan. Empat dari lima tikus yang mendapat perlakuan terlindungi ketika kembali terpapar malaria melalui gigitan nyamuk 41 hari kemudian, sementara tikus yang tidak mendapat perlakuan mengalami infeksi mematikan.
Perlindungan yang muncul tidak hanya mengandalkan satu mekanisme kekebalan. Antibodi dapat mengikat parasit sebelum masuk ke sel hati. Sementara itu, sel T CD8+ dapat mengenali dan menghancurkan sel yang telah terinfeksi.
Peneliti juga menemukan adanya sel T memori yang berada di jaringan hati, yang berpotensi memberikan respons lebih cepat ketika tubuh kembali menghadapi infeksi.
Menurut Boddey, pendekatan tersebut memungkinkan parasit berkembang terlebih dahulu sehingga sistem imun mendapat gambaran ancaman yang lebih luas, tetapi parasit dihentikan sebelum mampu menyebabkan infeksi darah.
Meski hasilnya menjanjikan, perlindungan tidak muncul secara seragam pada semua tikus.
Pada tikus C57BL/6, satu kali paparan hanya memberikan sedikit perlindungan penuh. Dua kali pemberian MK-7602 menghasilkan perlindungan 100 persen pada tiga dan 12 bulan, tetapi turun menjadi 20 persen pada bulan ke-19.
Pada tikus Swiss yang memiliki keragaman genetik, sekitar 40 persen tetap bebas dari infeksi darah yang terdeteksi setelah dua kali paparan.
Perbedaan tersebut menjadi salah satu alasan hasil penelitian pada tikus belum dapat dianggap sebagai gambaran respons manusia.
Peneliti juga menguji WM382 pada tikus yang memiliki sel hati manusia dan terinfeksi Plasmodium falciparum, salah satu parasit utama penyebab malaria pada manusia.
Dalam percobaan tersebut, obat memungkinkan parasit berkembang di hati tetapi menghentikannya sebelum mampu membentuk infeksi darah yang aktif pada tiga hewan yang diperiksa.
Namun, percobaan itu bukan pengujian vaksinasi pada manusia. Tikus yang digunakan tidak memiliki sistem kekebalan yang berfungsi sehingga tidak dapat digunakan untuk menilai respons imun seperti pada manusia.
Selain itu, jumlah hewan dalam percobaan relatif kecil dan gigitan nyamuk secara alami dapat memberikan jumlah parasit yang berbeda-beda.
Karena itu, penelitian ini belum membuktikan bahwa gigitan nyamuk yang dikombinasikan dengan obat dapat menghasilkan perlindungan yang aman dan konsisten pada manusia.
Peneliti melihat kemungkinan penggunaan suntikan obat jangka panjang yang dapat memberikan perlindungan selama musim penularan malaria. Namun, pendekatan tersebut masih berada pada tahap sebelum uji klinis pada manusia.
Penelitian lanjutan perlu menentukan dosis yang tepat, kemungkinan efek samping, serta risiko munculnya resistensi terhadap obat.
Temuan yang dipublikasikan di jurnal Science menunjukkan bahwa menghentikan parasit malaria pada tahap akhir perkembangannya di hati dapat menghasilkan perlindungan kuat dan bertahan lama pada tikus.
Apakah strategi tersebut nantinya dapat mengubah gigitan nyamuk menjadi semacam "latihan" bagi sistem kekebalan manusia masih harus dibuktikan melalui penelitian berikutnya. (*)
Sumber: Earth