Senin, 10/08/2026 16:15 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Harga minyak mentah dunia merangkak naik menyusul tuntutan terbaru Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz yang mengikis harapan akan pulihnya stabilitas pasar energi global.
Minyak mentah Brent sebagai tolok ukur internasional menguat lebih dari 1 persen pada Senin (10/8), dipicu sikap keras Teheran yang menegaskan tidak akan membuka perairan vital tersebut tanpa konsesi besar dari Amerika Serikat.
Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Oktober berada di level 84,11 dolar AS per barel pada pukul 07.30 GMT, naik 0,7 persen.
Pasca kenaikan terbaru ini, harga tolok ukur global tersebut tercatat melonjak sekitar 16 persen dibandingkan periode sebelum dimulainya perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Trump Pilih Jerat Ekonomi Ketimbang Gempur Iran
Ultimatum AS, Iran Hanya Akan Buka Selat Hormuz Jika Syarat Ini Dipenuhi
Pezeshkian Sebut Iran Siap Lanjutkan Perdamaian, Ini Syaratnya
"Ketiadaan pergerakan konkret, ditambah dengan pertanyaan mendasar mengenai rincian praktis dari kesepakatan apa pun, terus mempertahankan premi risiko pada harga minyak," ujar Tim Waterer, analis pasar utama di KCM Trade Sydney, Australia, kepada Al Jazeera.
"Setiap hari yang berlalu tanpa adanya titik terang membuat para pelaku pasar bertindak makin berhati-hati," tambahnya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Minggu menyatakan bahwa meski Iran dan Oman kian dekat mencapai kesepakatan mengenai Selat Hormuz, perairan tersebut tidak akan dibuka sampai Washington memenuhi syarat-syarat tertentu, termasuk pelonggaran sanksi terhadap Teheran serta pembayaran ganti rugi perang.
Aktivitas pelayaran di selat tersebut—yang mengalirkan sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia sebelum perang—melumpuh total sejak konflik meletus pada akhir Februari lalu, memicu gangguan energi terbesar dalam sejarah modern.
Berdasarkan data platform pelacakan kapal MarineTraffic, hanya ada delapan hingga 15 kapal yang melintasi selat tersebut pada 4, 5, dan 6 Agustus, jauh membandingkan rata-rata 130 perlintasan harian sebelum konflik.
Iran berulang kali mengklaim hak untuk mengendalikan pelayaran di selat tersebut, kendati kebebasan navigasi merupakan prinsip utama hukum laut internasional. Teheran bahkan mengancam akan menyerang kapal komersial yang nekat melintasi rute yang tidak disetujui.
Pada Sabtu, Uni Emirat Arab mengecam Teheran atas serangan rudal Iran terhadap kapal tanker milik perusahaan minyak nasional Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC).
Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatat sedikitnya 64 insiden kekerasan dan 17 kasus kematian yang melibatkan kapal komersial di kawasan tersebut sejak perang dimulai, dengan mayoritas insiden ditudingkan kepada pihak Iran.
Di tengah gejolak pasar energi, bursa saham Asia justru menguat pada Senin, di mana indeks utama di Jepang, Korea Selatan, dan Hong Kong mencatatkan kenaikan signifikan.
Indeks Nikkei 225 Jepang menguat 2,1 persen, sementara Kospi Korea Selatan dan Hang Seng Hong Kong masing-masing ditutup menguat 0,65 persen dan 1,1 persen.
Penguatan di pasar Asia ini menyusul rekor tertinggi bursa saham AS pada Jumat lalu, setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan meredam ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve.
Waterer menambahkan bahwa lonjakan harga minyak terkini mencerminkan skeptisisme pasar terhadap seberapa cepat para juru runding dapat mencapai kesepakatan nyata untuk membuka kembali Selat Hormuz.
"Bahkan jika kesepakatan akhirnya diumumkan, sejarah menunjukkan bahwa pemahaman semacam ini terbukti rapuh," kata Waterer. "Risiko residual dari pembalikan situasi kemungkinan bakal membatasi seberapa jauh harga minyak dapat turun seandainya terjadi terobosan diplomatik."
Sumber: Aljazeera