Gejolak Geopolitik, Konsumsi Domestik dan Rantai Pasok Dinilai Tetap Solid

Jum'at, 07/08/2026 15:15 WIB

JAKARTA, Jurnas.com — Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan perekonomian Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II/2026 atau naik lebih tinggi secara year-on-year pada kuartal yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,12%.

Dengan demikian, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,45% sepanjang semester I/2026. Hal ini menegaskan bahwa pertumbuhan domestik dan ketahanan ekonomi nasional masih solid di tengah gejolak geopolitik Iran-AS di Timur Tengah.

Ketua Dewan Pembina DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) yang juga menjabat Senior Vice President FIATA, Yukki Nugrahawan Hanafi, menilai capaian tersebut patut diapresiasi karena diraih dalam kuartal yang secara struktural paling berat.

"Kuartal II ini tekanan terhadap ekonomi nasional berasal dari dua hal sekaligus, yaitu pertama hilangnya efek musiman Ramadan dan Idulfitri yang mendorong pertumbuhan kuartal I ke 5,61%, dan yang kedua mulai terasanya dampak tekanan geopolitik yang menekan permintaan ekspor. Pertumbuhan kuartal II yang mencapai 5,29% menjadi indikasi bahwa fondasi permintaan domestik dan ketahanan rantai pasok kita jauh lebih solid daripada yang diperkirakan pasar," ujar Yukki, Jumat (7/8/2026),

Yukki menggarisbawahi bahwa konsumsi masyarakat masih menopang pertumbuhan kuartal II/2026 ini dengan kontribusi 53,32% terhadap PDB, menunjukan permintaan domestik yang resilien.

Dari sisi lapangan usaha, hampir seluruh sektor mencatatkan pertumbuhan positif. Industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan andil 0,90 poin persentase, disusul perdagangan 0,83 poin persentase, konstruksi 0,62 poin persentase, serta informasi dan komunikasi 0,48 poin persentase.

Kelima lapangan usaha terbesar mencakup sekitar 63,73% dari total Produk Domestik Bruto (PDB).

Meski demikian, Yukki mengingatkan bahwa terdapat pekerjaan rumah menanti pada semester II/2026. Pertama, mengakselerasi kinerja perdagangan luar negeri, dimana Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan pada Mei dan Juni 2026 setelah 72 bulan berturut-turut surplus.

Kedua, tekanan terhadap nilai tukar yang berdampak langsung pada struktur biaya pelaku usaha.

Selain itu, perhatian perlu kembali diarahkan pada percepatan industrialisasi dan penguatan sektor manufaktur bernilai tambah agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya bertumpu pada konsumsi, tetapi juga ditopang oleh peningkatan produktivitas, investasi, ekspor, dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri.

Langkah ini penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkualitas sekaligus memperkuat fondasi transformasi struktural Indonesia menuju 2045 sebagai negara maju.

“Catatan ini perlu mendapat perhatian karena memiliki implikasi langsung terhadap daya gedor pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkualitas. Penguatan perdagangan luar negeri diperlukan untuk menjaga sumber devisa dan memperkuat fundamental eksternal, sementara stabilitas nilai tukar penting untuk menjaga kepastian biaya bagi dunia usaha ditambah dengan akselerasi industrialisasi yang secara struktural penting dalam transformasi ekonomi nasional,” ujar Yukki.

 

Spesifik pada Sektor Logistik Rantai Pasok

Yukki juga menggarisbawahi pemulihan aktivitas industri manufaktur pada awal kuartal III/2026 yang menjadi momentum dalam memperkuat prospek keberlanjutan pertumbuhan.

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur S&P Global Indonesia naik ke 50,2 pada Juli 2026 dari 46,9 pada Juni atau kembali ke zona ekspansi setelah empat bulan tertekan, dengan indeks output melonjak dari 44,4 ke 50,4.

"PMI yang kembali ekspansif adalah leading indicator bagi dunia usaha. Volume produksi yang naik diharapkan juga akan berdampak menjadi volume kargo dalam empat hingga delapan pekan ke depan. Ini yang harus dijaga," tegas Yukki.

Saat bersamaan Yukki juga mengingatkan pentingnya kembali menggenjot ekspor agar pertumbuhan ekonomi tahun 2026 dapat meningkat mendekati target 5,4% - 6%.

Ia mendorong tiga prioritas kebijakan pada semester II/2026, yaitu percepatan digitalisasi National Logistics Ecosystem (NLE) agar sektor logistik lebih efisien, diversifikasi pasar ekspor melalui pemanfaatan jaringan multilateral dan perjanjian dagang yang telah aktif, serta penguatan konektivitas pelabuhan dan kawasan industri, termasuk optimalisasi Patimban dan simpul-simpul logistik di luar Jawa.

"Agar pertumbuhan ekonomi tahun 2026 mendekati target pertumbuhan pemerintah 5,4% - 6%, perlu katalis yang positif baik dari belanja pemerintah tepat sasaran, investasi produktif dipercepat, dan daya beli domestik tetap terjaga." tutup Yukki.

TERKINI
KPK Akan Panggil Kepala Kantor Imigrasi Jaksel Juli 2026, Cadangan Devisa Indonesia Turun Tipis Gejolak Geopolitik, Konsumsi Domestik dan Rantai Pasok Dinilai Tetap Solid Diborgol dan Berompi Tahanan, Febrie Adriansyah Dibawa ke Kejagung