Kukuhkan Enam Guru Besar, UT Bidik World-Class University

Kamis, 06/08/2026 22:13 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Universitas Terbuka (UT) mengukuhkan enam guru besar berbagai disiplin pengetahuan, dalam rangkaian Dies Natalis ke-42 pada Kamis (6/8) di UTCC Kampus Pusat UT, Tangerang Selatan.

Keenam guru besar tersebut membawa gagasan berbasis riset di bidang pendidikan, tata kelola pemerintahan, lingkungan, literasi, kecerdasan artifisial, hingga perlindungan pekerja migran.

Rektor Universitas Terbuka, Prof. Dr. Ali Muktiyanto mengatakan pengukuhan terbaru menjadikan guru besar di UT kini berjumlah 45 orang. Karena itu, dia berharap puncak gelar akademik itu tidak hanya menunjukkan kepakaran, namun juga berdampak di masyarakat.

"Pengukuhan guru besar ini juga jadi momentum penting bagi Universitas Terbuka untuk memantapkan langkah menjadi World-Class University," ujar Rektor UT dalam konferensi pers.

Guna mendongkrak jumlah penelitian secara umum, dan guru besar secara khusus, Universitas Terbuka memiliki program kelompok riset profesor. Kelompok riset ini juga termasuk mendorong proses hilirisasi, agar riset tidak hanya berhenti di perguruan tinggi.

"Oleh karena itu, para profesor memang diharapkan bisa menjadi pemimpin kelompok riset, agar tidak hanya masuk riset internasional, tapi kesiapterapannya juga tinggi," kata Prof. Ali.

Lebih lanjut, Prof. Ali menargetkan 100 guru besar Universitas Terbuka secara bertahap. Untuk mencapai hal ini, kampus menyiapkan dana riset berkisar Rp100 juta hingga Rp1,5 miliar.

"Untuk mencapai 100 profesor kita bangun atmosfer yang nyaman. Secara kelembagaan, kita mandatkan fakultas untuk mengawal secara khusus, termasuk yang jadi momok itu karya ilmiah," dia menambahkan.

Diketahui, enam Guru Besar UT menyampaikan orasi ilmiahnya dalam upacara pengukuhan. Prof. Dr. Tifa Rosita mengangkat pentingnya penguatan ekosistem pembelajaran abad ke-21 yang adaptif, personal, dan berpusat pada pengalaman belajar mahasiswa melalui pemanfaatan teknologi, analitik pembelajaran, serta AI.

Transformasi pendidikan tersebut berpadu dengan pemikiran Prof. Dr. Suparti, yang menyoroti pentingnya strategi pembelajaran literasi untuk membentuk peserta didik yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan komunikatif di era digital.

Prof. Dr. Mery Noviyanti, menghadirkan pendekatan baru dalam pembelajaran matematika melalui pemanfaatan AI, Python Virtual Lab, dan GeoGebra untuk memperkuat mathematical knowledge for teaching, sekaligus membangun kemampuan computational thinking dan literasi AI yang semakin dibutuhkan pada masa depan.

Tidak hanya pendidikan, tata kelola pemerintahan juga menjadi perhatian. Prof. Dr. Siti Aisyah, mengangkat konsep smart governance sebagai pendekatan yang mengintegrasikan teknologi digital, data, serta kolaborasi lintas pemangku kepentingan guna menghadirkan pelayanan publik yang lebih cepat, transparan, dan berkelanjutan.

Di sisi lain, Prof. Dr. Rahmat Hidayat, menawarkan desain model pelaporan kolaboratif berbasis End Mobile Traffick App untuk memperkuat perlindungan pekerja migran dari praktik forced scamming, salah satu bentuk kejahatan digital lintas negara yang terus berkembang.

Isu keberlanjutan lingkungan turut mendapat perhatian melalui orasi Prof. Dr. Ir. Edi Rusdiyanto, yang memperkenalkan pendekatan River–Settlement Symbiotic System (RS3). Melalui pendekatan tersebut, sungai dipandang sebagai bagian dari ruang hidup masyarakat yang perlu dikelola secara terpadu bersama kawasan permukiman.

TERKINI
Kejagung Geledah Rumah Nurman Herin Terkait TPPU Febrie Adriansyah Bologna Tolak Tawaran Everton untuk Jonathan Rowe Kukuhkan Enam Guru Besar, UT Bidik World-Class University Carragher Kaget Mo Salah Pilih Trabzonspor: Dia Mirip Ronaldo