Minggu, 02/08/2026 17:15 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Tanggal 12 Agustus 2026 diprediksi menjadi salah satu hari paling istimewa bagi pencinta astronomi.
Dalam waktu kurang dari 24 jam, langit akan menghadirkan rangkaian fenomena langka, mulai dari gerhana Matahari, puncak hujan meteor Perseid, kemunculan Venus dalam fase unik, hingga penampakan terbaik Galaksi Bima Sakti.
Dikutip dari Live Science, kombinasi empat peristiwa langit tersebut disebut sebagai salah satu kesempatan terbaik untuk mengamati langit malam dalam beberapa tahun terakhir, terutama jika cuaca cerah dan jauh dari polusi cahaya.
Fenomena pertama terjadi pada siang hari ketika gerhana Matahari menghiasi sejumlah wilayah di dunia. Jalur gerhana Matahari total akan melintasi Greenland bagian timur, Islandia bagian barat, hingga Spanyol utara.
Harga Pertamax Turun Mulai 1 Agustus 2026, Berikut Penjelasan Pertamina
Mulai 1 Agustus, Harga Pertamax Turun Jadi Rp15.950 Per Liter
Buck Moon Muncul di Langit Jelang Gerhana Matahari Total Agustus 2026
Sementara itu, jutaan orang di Amerika Utara, Eropa, dan Afrika Utara tetap dapat menyaksikan gerhana Matahari sebagian. Diperkirakan sekitar 779 juta penduduk akan melihat setidaknya 10 persen piringan Matahari tertutup Bulan.
Di Amerika Utara, wilayah Nunavut di Kanada akan memperoleh gerhana sebagian terdalam dengan cakupan hingga 93 persen. Kota-kota seperti Toronto, Ottawa, dan Quebec diperkirakan menyaksikan gerhana dengan penutupan Matahari sekitar 8–24 persen.
Di Amerika Serikat, Alaska menjadi lokasi terbaik dengan Fairbanks mengalami penutupan Matahari hingga 37 persen, sedangkan Boston sekitar 16 persen.
Sementara itu, Eropa akan menikmati pemandangan yang lebih spektakuler. London diperkirakan mengalami gerhana hingga 91 persen, sedangkan Paris mencapai sekitar 92 persen.
Para astronom mengingatkan bahwa gerhana Matahari hanya boleh diamati menggunakan kacamata gerhana bersertifikat ISO 12312-2 atau teleskop dan kamera yang telah dipasang filter Matahari khusus. Melihat Matahari secara langsung tanpa perlindungan dapat menyebabkan kerusakan permanen pada mata.
Setelah Matahari terbenam, perhatian beralih ke langit barat. Planet Venus akan mencapai fase dikotomi, yaitu kondisi ketika separuh permukaannya tampak diterangi Matahari.
Melalui teleskop kecil atau teropong astronomi, Venus akan terlihat menyerupai Bulan sabit dengan setengah bagian terang. Fase ini menjadi salah satu momen favorit pengamat planet karena memberikan tampilan yang jarang disaksikan dengan jelas.
Puncak pertunjukan langit berlangsung saat malam hingga dini hari 12–13 Agustus, ketika hujan meteor Perseid mencapai intensitas maksimum.
Tahun ini, kondisi pengamatan diperkirakan sangat ideal karena bertepatan dengan fase Bulan baru, sehingga langit menjadi jauh lebih gelap tanpa gangguan cahaya Bulan.
Dalam kondisi langit yang benar-benar gelap, pengamat berpeluang menyaksikan sekitar 50 hingga 75 meteor setiap jam. Bahkan di wilayah pinggiran kota yang minim polusi cahaya, bintang jatuh diperkirakan tetap akan terlihat cukup sering.
Waktu terbaik untuk berburu hujan meteor adalah mulai tengah malam hingga sekitar pukul 02.00 waktu setempat, saat rasi Perseus berada tinggi di langit.
Sebagai pelengkap, langit malam juga akan dihiasi Galaksi Bima Sakti yang membentang jelas dari cakrawala ke cakrawala. Tidak adanya cahaya Bulan membuat inti galaksi tampak lebih kontras, terutama dari daerah pegunungan atau pedesaan yang jauh dari lampu perkotaan.
Kombinasi gerhana Matahari, Venus dalam fase dikotomi, hujan meteor Perseid pada langit tanpa Bulan, serta penampakan Bima Sakti menjadikan 12 Agustus 2026 sebagai salah satu hari terbaik untuk menikmati berbagai fenomena astronomi sekaligus.
Bagi penggemar fotografi langit maupun masyarakat yang baru ingin mulai mengenal astronomi, momen ini menjadi kesempatan langka yang belum tentu kembali terulang dalam waktu dekat. Jika kondisi cuaca mendukung, malam tersebut berpotensi menghadirkan salah satu pertunjukan langit paling spektakuler dalam beberapa tahun terakhir. (*)
Sumber: Live Science