Kemenkes Bakal Percepat Adopsi Bedah Robotik Nasional

Senin, 27/07/2026 21:53 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan pihaknya terus mempercepat transformasi layanan kesehatan melalui pengembangan teknologi bedah robotik sebagai bagian dari pilar transformasi teknologi kesehatan.

Selain menyiapkan pengadaan 40 unit robot bedah untuk rumah sakit pemerintah, Kemenkes juga membangun ekosistem kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), memperluas pelatihan dokter, serta mendorong transfer teknologi agar industri alat kesehatan nasional semakin mandiri.

Komitmen tersebut disampaikan Menkes saat menghadiri peringatan pencapaian hampir 1.000 tindakan bedah robotik di Rumah Sakit Bunda Jakarta sekaligus peluncuran kolaborasi strategis antara Kementerian Kesehatan (kemenkes), Rumah Sakit Bunda, dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Menurut Menkes, robotik merupakan salah satu dari tiga teknologi kesehatan prioritas Kemenkes bersama kecerdasan artifisial dan bioteknologi.

"Robotik adalah tren global. Teknologi ini memberikan kualitas layanan yang lebih baik bagi pasien, operasi lebih presisi, nyeri lebih ringan, dan masa rawat lebih singkat. Tugas pemerintah adalah memastikan layanan ini semakin mudah diakses, berkualitas, dan biayanya semakin terjangkau," kata Menkes Budi dalam keterangan resmi, Senin (27/7).

Menkes mengungkapkan bahwa pemanfaatan bedah robotik di Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara, termasuk Singapura, Thailand, Malaysia, bahkan Vietnam. Karena itu, pemerintah mengambil langkah agresif untuk mempercepat adopsinya melalui kebijakan nasional.

Salah satu langkah tersebut adalah pembentukan Komite Robotik Kementerian Kesehatan yang bertugas menyusun arah pengembangan teknologi robotik di Indonesia, mulai dari kebutuhan teknologi, standar pelayanan, hingga strategi agar layanan dapat diakses masyarakat dengan biaya yang lebih efisien.

Di sisi pembiayaan, Kemenkes juga sedang mengevaluasi skema pembayaran melalui BPJS Kesehatan agar tindakan bedah robotik dapat masuk ke dalam sistem pembiayaan nasional sehingga semakin banyak masyarakat yang dapat memanfaatkan teknologi tersebut.

Sebagai fondasi menuju pemanfaatan robotik secara luas, Kemenkes terlebih dahulu memperkuat layanan bedah minimal invasif melalui program nasional pelatihan operasi laparoskopi bagi dokter bedah di 514 kabupaten dan kota. Program ini diharapkan memperluas akses masyarakat terhadap operasi modern, seperti operasi hernia, usus buntu, kantung empedu, dan berbagai tindakan bedah digestif lainnya.

"Kita ingin semakin banyak dokter Indonesia memiliki kompetensi bedah minimal invasif dan robotik. Jangan sampai kemampuan ini hanya dimiliki kelompok tertentu atau hanya tersedia di kota-kota besar," ujar Menkes.

Ia menjelaskan bahwa pengembangan robotik tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan, tetapi juga menjadi fondasi bagi pengembangan AI kesehatan Indonesia.

Indonesia saat ini tengah membangun tiga basis data nasional yang saling terintegrasi, yaitu data kependudukan, data klinis, dan data genomik. Ke depan, data tindakan bedah robotik juga akan dihimpun secara nasional sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan AI yang membantu dokter meningkatkan ketepatan tindakan operasi.

"AI bukan menggantikan dokter, tetapi menjadi augmented intelligence yang membantu dokter mengambil keputusan berdasarkan pembelajaran dari ribuan hingga jutaan data klinis," kata Menkes.

Ia menambahkan, keterbukaan data operasi robotik akan memungkinkan Indonesia mengembangkan sistem pembelajaran berbasis AI yang dapat meningkatkan standar mutu tindakan bedah sekaligus tetap mempertahankan keputusan klinis di tangan dokter.

Dalam pengadaan robot bedah, Kementerian Kesehatan juga akan mewajibkan adanya transfer teknologi, terutama untuk produksi komponen habis pakai (consumables) di dalam negeri.

Kebijakan tersebut diharapkan mampu menurunkan biaya tindakan bedah robotik sehingga semakin terjangkau bagi masyarakat sekaligus memperkuat industri alat kesehatan nasional.

Selain itu, Kementerian Kesehatan akan memperluas pusat pelatihan bedah robotik di berbagai wilayah Indonesia agar akses pendidikan tidak terpusat di satu daerah maupun institusi tertentu.

Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara mengatakan Indonesia memiliki kapasitas riset yang kuat di bidang teknik biomedis, biomekanika, robotika, dan kecerdasan artifisial. Namun, keberhasilan inovasi sangat bergantung pada kolaborasi erat antara akademisi dan tenaga medis.

"Fasilitasi dari Kementerian Kesehatan sangat penting agar peneliti dan dokter dapat bekerja bersama mengembangkan teknologi kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Dengan kolaborasi ini, kami optimistis Indonesia mampu menghasilkan inovasi alat kesehatan yang berdaya saing global," ujarnya.

Presiden Komisaris PT Bundamedik Tbk dr. Ivan Rizal Sini menyampaikan bahwa pencapaian hampir 1.000 tindakan bedah robotik merupakan hasil konsistensi lebih dari satu dekade dalam mengembangkan layanan bedah minimal invasif di Indonesia.

Ia menegaskan Rumah Sakit Bunda siap mendukung program pemerintah melalui pengembangan pusat pelatihan, berbagi pengalaman, serta memperluas transfer pengetahuan kepada dokter dari berbagai daerah.

"Kami percaya pengalaman harus dibagikan. Semakin banyak dokter Indonesia yang menguasai bedah robotik, semakin besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat," kata Ivan.

Melalui sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan industri, Kementerian Kesehatan menargetkan Indonesia menjadi salah satu pusat pengembangan teknologi bedah robotik di kawasan sekaligus memperkuat kemandirian industri alat kesehatan nasional demi menghadirkan layanan kesehatan yang lebih berkualitas, merata, dan terjangkau bagi seluruh masyarakat.

 

TERKINI
Anggota DPR: Rentetan Kekerasan di Berbagai Daerah Ancam Persatuan Bangsa Tak Cuma Gaya Hidup, Tempat Tinggal Bisa Berpengaruh pada Kesehatan Jantung Wamentrans: TEP 2026 Fokus Pengembangan Ekonomi dan Industrialisasi Wabah Ebola Tembus 3.200 Kasus, Korban Tewas Lampaui 1.400 Orang