Ilmuwan Temukan Cara Baru Prediksi Badai Matahari 7 Tahun Lebih Awal

Sabtu, 25/07/2026 23:15 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Para ilmuwan menemukan cara baru untuk memprediksi kekuatan badai Matahari hingga sekitar tujuh tahun lebih awal.

Temuan ini membuka peluang bagi operator satelit, jaringan listrik, dan berbagai sektor yang bergantung pada teknologi antariksa untuk mempersiapkan diri lebih dini menghadapi cuaca antariksa ekstrem.

Dikutip dari Earth, penelitian terbaru menunjukkan badai Matahari paling dahsyat tidak mereda secara bertahap menjelang akhir siklus Matahari yang berlangsung sekitar 11 tahun.

Sebaliknya, aktivitas ekstrem tersebut berhenti secara tiba-tiba pada satu titik tertentu yang kini dapat dijadikan penanda untuk memperkirakan kekuatan siklus Matahari berikutnya.

Berdasarkan pendekatan tersebut, para peneliti memperkirakan Siklus Matahari 26 akan memiliki intensitas sedang, tidak lebih kuat dibandingkan siklus yang sedang berlangsung saat ini.

Temuan tersebut dipresentasikan oleh Profesor Sandra Chapman dari University of Warwick dalam National Astronomy Meeting di Birmingham, Inggris, pada 20 Juli 2026.

Ilmuwan ciptakan "Jam Matahari". Selama berabad-abad, astronom telah mengamati bintik Matahari (sunspots) sebagai indikator aktivitas Matahari. Namun, setiap siklus memiliki durasi dan tingkat aktivitas yang berbeda sehingga sulit diprediksi.

Untuk mengatasi persoalan itu, tim peneliti mengembangkan metode yang disebut sunclock atau "jam Matahari". Metode ini menyamakan seluruh siklus Matahari ke dalam pola waktu 11 tahun sehingga setiap siklus dapat dibandingkan secara langsung.

Hasilnya, data gangguan medan magnet Bumi sejak 1868 memperlihatkan pola yang sangat konsisten. Badai Matahari paling ekstrem selalu muncul pada fase yang sama dalam setiap siklus.

"Kami membangun jam yang teratur untuk siklus Matahari yang tidak teratur sehingga dapat menunjukkan kapan kita harus mencari tanda-tanda awal siklus berikutnya," kata Chapman.

Salah satu temuan paling penting dalam penelitian ini adalah aktivitas badai Matahari ekstrem ternyata tidak berkurang sedikit demi sedikit menjelang akhir siklus.

Sebaliknya, aktivitas tersebut berhenti secara mendadak ketika Matahari beralih dari fase paling aktif menuju fase minimum.

Menurut Chapman, setelah melewati titik tersebut, Matahari masih menghasilkan cuaca antariksa, tetapi intensitasnya jauh lebih ringan.

Analisis terhadap lebih dari 150 tahun catatan menunjukkan hanya satu badai Matahari kategori paling ekstrem yang terjadi setelah fase "switch-off" tersebut, yakni pada 1986.

Peneliti juga menemukan titik berhentinya badai ekstrem berkaitan dengan posisi bintik Matahari. Pada awal siklus, bintik Matahari muncul di lintang menengah, kemudian perlahan bergerak menuju ekuator.

Ketika lebih dari 90 persen area bintik Matahari terkonsentrasi di wilayah sekitar 15 derajat dari ekuator Matahari, aktivitas badai paling dahsyat berhenti.

Chapman menjelaskan salah satu dugaan penyebabnya adalah perubahan cara medan magnet Matahari terbentuk di wilayah ekuator, meski hubungan tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Selama ini, ilmuwan baru bisa memperkirakan kekuatan siklus Matahari berikutnya setelah Matahari mencapai fase minimum. Metode baru memungkinkan prediksi dilakukan sekitar enam hingga tujuh tahun lebih awal.

Tim peneliti menemukan jumlah bintik Matahari saat fase "switch-off" memiliki hubungan erat dengan jumlah bintik Matahari pada puncak siklus berikutnya.

Pendekatan ini juga disebut berhasil memperkirakan Siklus Matahari 25 akan lebih kuat dibandingkan sebagian besar prediksi sebelumnya.

Saat itu, sebagian ilmuwan memperkirakan puncaknya hanya sekitar 115 bintik Matahari. Namun kenyataannya jumlah tersebut mencapai sekitar 160 pada akhir 2024 dan memicu badai Matahari besar yang menghasilkan aurora hingga wilayah selatan Amerika Serikat.

Karena Siklus Matahari 25 belum mencapai fase "switch-off", prediksi untuk Siklus Matahari 26 masih bersifat sementara. Chapman memperkirakan titik tersebut baru akan terjadi sekitar dua tahun lagi.

Untuk sementara, puncak Siklus Matahari 26 diperkirakan berada di kisaran 100 hingga 120 bintik Matahari, sehingga aktivitasnya diprediksi berada pada kategori sedang.

"Setelah melewati titik switch-off, saya dapat menghitung ulang sehingga estimasi Siklus 26 akan jauh lebih akurat karena tidak lagi bergantung pada proyeksi yang masih memiliki ketidakpastian besar," ujar Chapman.

Kemampuan memprediksi kekuatan siklus Matahari lebih awal dinilai sangat penting karena badai Matahari dapat mengganggu berbagai teknologi modern.

Badai Matahari besar pada Mei 2024, misalnya, menyebabkan atmosfer atas Bumi mengembang sehingga meningkatkan hambatan terhadap satelit di orbit rendah. Banyak satelit harus menyalakan pendorongnya secara bersamaan untuk mempertahankan orbit.

Menurut Chapman, informasi jangka panjang mengenai kekuatan siklus Matahari sangat bermanfaat untuk perencanaan operasi satelit, terutama yang berada di orbit rendah Bumi.

Selain membantu operator satelit dan pengelola jaringan listrik mempersiapkan risiko cuaca antariksa, temuan ini juga memberi ilmuwan acuan baru untuk memahami mekanisme kerja medan magnet Matahari yang mengendalikan siklus aktivitasnya. (*)

TERKINI
Panduan Membuat CV yang Menarik agar Dilirik HRD Panduan Lengkap Tata Cara Wudhu Sesuai Sunah Rasulullah Tata Cara Sholat Jenazah Lengkap dengan Urutan Takbir dan Doa Ini Alasan 26 Juli Dirayakan Sebagai Hari Tahu Sedunia