Ini 3 Resep Jitu Kampus Tak Terjebak dengan Fenomena AI

Kamis, 23/07/2026 18:30 WIB

Pekanbaru, Jurnas.com - Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang merambah ke berbagai bidang, menyisakan kekhawatiran tentang bergesernya kebutuhan industri terhadap tenaga manusia di masa mendatang.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, saat hadir dalam rangkaian kegiatan Tanoto Scholars Gathering (TSG) 2026, yang berlangsung pada Kamis (23/7) di Kompleks PT RAPP, Pangkalan Kerinci, Riau.

Menurut Wamen Stella, saat ini kampus dituntut untuk lebih relevan supaya dapat menghasilkan lulusan yang lebih adaptif terhadap perkembangan AI. Untuk mencapai tujuan ini, terdapat tiga peran utama yang mesti menjadi nyawa perguruan tinggi.

Pertama, Creation of Knowledge atau penciptaan pengetahuan. Wamen Stella mengatakan, kampus harus tetap menjadi institusi yang menciptakan pengetahuan-pengetahuan baru, alih-alih berpuas diri dengan pengetahuan yang sudah ada. Karena itu, inovasi menjadi kunci.

"Lita lihat sekarang, AI bisa menciptakan pengetahuan. Ini pertanyaan kritis yang harus dijawab perguruan tinggi. Kalau AI bisa, siapa yang bisa menciptakan pengetahuan? Pengetahuan seperti apa yang bisa diciptakan manusia?" kata Wamen Stella.

"AI mampu menciptakan desain baru, kalau adik-adik tidak bisa menciptakan pengetahuan baru yang berbeda dari AI, maka adik-adik akan digantikan oleh AI," dia menambahkan.

Kedua, Transmission of Knowledge atau transmisi pengetahuan. Perguruan tinggi hari ini mesti memiliki sesuatu bernilai yang dapat ditransmisikan kepada mahasiswa. Dia mengibaratkan poin ini dengan ponsel. Tingginya frekuensi penggunaan ponsel oleh manusia, lantaran ponsel memberikan sesuatu yang diinginkan.

"Ini yang membuat sesuatu yang melakukan transmisi ini menjadi sesuatu yang menyenangkan. Misalnya membatik. Sekarang masih maukah kita membayar lebih untuk batik lukisan tangan? Sebab, nanti AI pasti bisa membatik, bisa membuat novel, dan lain sebagainya. Ini jawaban yang harus dijawab oleh universitas," ujar dia.

Ketiga, Curation of Knowledge atau kurasi pengetahuan. Di tengah kemudahan mendapatkan fakta dan data melalui AI, Stella mendorong perguruan tinggi menjadi kurator atas fakta-fakta yang menarik untuk peradaban manusia. Sebab, tidak semua fakta dapat disebut pengetahuan.

"Pengetahuan ini adalah kurasi fakta unik yang kita kuasai, bukan daftar fakta yang ada di dunia. Kalau hanya daftar fakta, AI pasti lebih tahu," kata dia.

Akhirnya, lanjut Wamen Stella, apabila mahasiswa dan perguruan tinggi dapat menjawab pengetahuan yang harus diciptakan, ditransmisikan, dan dikurasi, maka tantangan AI dapat dilewati.

"Jika kalian bisa mengkurasi pengetahuan menarik, kalian tidak akan tergantikan oleh AI," tutup dia.

TERKINI
Berbagai Kesalahan yang Sering Dilakukan saat Sholat Keutamaan Menjaga Sholat Lima Waktu Menurut Al-Qur`an dan Hadis Yunani Bersiap Beli Sistem Pertahanan Udara dari Israel Komisi X Tunggu Penjelasan Pemerintah Terkait Pembentukan Universitas RI