Menlu se-ASEAN Prihatin Konflik Timur Tengah Terus Berlanjut

Selasa, 21/07/2026 15:45 WIB

Manila, Jurnas.com - Para menteri luar negeri di ASEAN menyatakan keprihatinan yang mendalam tentang konflik yang berkembang pesat di Timur Tengah. Mereka menyerukan penahanan diri dan penghindaran tindakan yang semakin memperburuk situasi.

Dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari Arab News pada Selasa (21/7), perkembangan tersebut sangat merusak upaya yang sedang berlangsung oleh para mediator utama dan mengurangi prospek penyelesaian damai melalui dialog dan diplomasi.

Bentrokan di Laut China Selatan juga menjadi bahasan dalam pertemuan tersebut, di saat Amerika Serikat (AS) mengutuk tindakan berbahaya China di jalur air yang disengketakan tersebut.

Pernyataan AS tersebut muncul beberapa menit setelah Menteri Luar Negeri Marco Rubio tiba di Filipina, di saat ASEAN yang beranggotakan 11 negara bakal menangani berbagai masalah, termasuk Myanmar yang sedang dilanda perang saudara.

Sebelum meninggalkan Washington pada Senin, Rubio mengatakan bahwa dia terbuka terhadap kemungkinan pertemuan sela dengan diplomat top China Wang Yi, yang juga akan berada di Manila.

Dalam sebuah opini yang diterbitkan pada Selasa pagi di Filipina, Rubio menggembar-gemborkan komitmen Washington terhadap kebebasan navigasi di Asia Tenggara dan payung pertahanan regional yang sudah ada.

"Kebebasan ini sama sekali tidak terjamin. Jika perairan ini jatuh di bawah kendali kekuatan yang bersedia menggunakan perdagangan sebagai senjata geopolitik, baik Amerika Serikat maupun negara-negara ASEAN akan menghadapi ancaman baru yang serius terhadap kedaulatan, keamanan, dan masa depan ekonomi mereka," tulis Rubio.

Sementara itu, Beijing mengklaim kedaulatan atas hampir seluruh Laut China Selatan, sebuah rute perdagangan global yang vital, meskipun ada putusan internasional bahwa klaimnya tidak memiliki dasar hukum.

Pada Senin kemarin, pelaut Filipina dan China bentrok di Dangkalan Thomas Kedua di Laut China Selatan dalam pertikaian maritim serius pertama dalam beberapa bulan terakhir.

Manila mengatakan personel Penjaga Pantai China telah menyerang pelaut Filipina di dekat kapal karam yang berfungsi sebagai garnisun di dangkalan yang disengketakan tersebut.

Sebaliknya, Beijing menuding Filipina memicu insiden tersebut dengan mengirimkan orang-orang menggunakan perahu karet kecil untuk mendekati kapal mereka.

Adapun terkait Selat Hormuz, berlanjutnya permusuhan di jalur air tersebut juga membayangi negara-negara ASEAN. Filipina yang bergantung pada impor mengumumkan darurat energi nasional pada Maret dan terpaksa memperluas jaringannya untuk mendapatkan bahan bakar, termasuk pembelian minyak dari Rusia.

TERKINI
Iran Hentikan Dua Kapal Tanker yang Terbakar di Selat Hormuz Menaker: Magang Nasional Permudah Industri Dapatkan Talenta Siap Kerja DPR Sahkan Kerja Sama Pertahanan RI dengan Malaysia dan Turki Iran Serang Pusat Data Amazon Milik AS