AS dan Iran Saling Serang, Kapal Tanker Kena Rudal di Pantai Oman

Selasa, 21/07/2026 15:17 WIB

Dubai, Jurnas.com - Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan bahwa sebuah kapal tanker dihantam rudal di lepas pantai Oman, pada Selasa (21/7), di saat Amerika Serikat (AS) dan Iran saling serang untuk memperebutkan kendali atas Selat Hormuz.

"UKMTO telah menerima laporan mengenai sebuah insiden di 13 mil laut (NM) tenggara Limah, Oman. Sebuah kapal tanker melaporkan terkena rudal saat melintas keluar di rute selatan. Pihak berwenang sedang melakukan penyelidikan," kata organisasi Inggris tersebut dalam sebuah pernyataan.

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada hari yang sama menyatakan bahwa mereka menghentikan dua kapal tanker minyak yang tidak patuh, yang mencoba melintasi Selat Hormuz, berdasarkan laporan kantor berita pemerintah IRNA, dikutip dari Arab News.

"Dua kapal tanker minyak yang tidak patuh yang mencoba melewati rute selatan Selat Hormuz yang tidak aman dihentikan setelah ledakan menyebabkan kebakaran besar di atas kapal-kapal tersebut," ungkap IRGC.

Sejak eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran yang memanas sejak Februari 2026, Selat Hormuz sebagai jalur maritim yang sangat krusial bagi sekitar seperlima perdagangan minyak laut dunia, mengalami gangguan masif.

Iran memblokir jalur lalu lintas di kawasan tersebut dari kapal-kapal yang berafiliasi dengan AS beserta sekutunya melalui pengerahan kapal cepat, serangan drone dan rudal, serta penebaran ranjau laut.

Di sisi lain, AS turut memberlakukan blokade terhadap pergerakan logistik pelabuhan Iran serta melancarkan kampanye serangan udara, yang mengubah perairan strategis ini menjadi zona konflik bersenjata.

Eskalasi terbaru pada Juli 2026 ini terjadi setelah runtuhnya perjanjian gencatan senjata di antara kedua belah pihak yang sempat disepakati pada Juni.

AS kembali melancarkan operasi militer berturut-turut yang menargetkan fasilitas militer maritim Iran dan menyerang kapal tanker yang mengabaikan peringatan keamanan.

Sebagai tanggapannya, IRGC membalas dengan menyerang kapal-kapal di rute transit selatan serta menargetkan kembali kepentingan AS di Timur Tengah. Hal ini menyebabkan ribuan pelaut terjebak di area konflik dan menahan arus pelayaran di Selat Hormuz hingga nyaris terhenti total.

Konflik maritim yang berkepanjangan ini membawa efek kejut yang signifikan terhadap stabilitas ekonomi dan pasar energi global. Ketidakpastian geopolitik dan penutupan rute distribusi yang vital memicu volatilitas pasar minyak, di mana harga minyak mentah Brent terus berfluktuasi tinggi dari kisaran $80 hingga sempat menyentuh level $90 per barel.

TERKINI
Iran Serang Pusat Data Amazon Milik AS Tiket Diskon Kapal Pelni Terserap 96 Persen Baleg DPR Setujui RUU LLAJ Dibawa ke Paripurna Abdul Rivai Ras Tegaskan Transformasi PTPN I untuk Daya Saing Global