Eddy Soeparno: Disrupsi Energi Global Belum Usai, Perkuat Ketahanan Energi

Rabu, 15/07/2026 15:50 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Wakil Ketua MPR, Eddy Soeparno menyoroti kembali meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz sebagai peringatan serius bahwa disrupsi energi global belum benar-benar berakhir.

“Perkembangan terbaru di Selat Hormuz menunjukkan bahwa stabilitas pasokan energi global masih sangat rentan. Kita tidak boleh lengah bahwa krisis telah usai. Disrupsi energi global masih berlangsung dan berpotensi kembali memburuk sewaktu-waktu,” tegas Eddy Soeparno.

Eddy menekankan bahwa Indonesia tidak boleh terlena oleh adanya gencatan senjata atau jeda konflik sementara.

“Fakta bahwa konflik dapat kembali memanas dalam waktu singkat menjadi bukti bahwa situasi geopolitik global sangat dinamis. Kita tidak boleh lengah hanya karena ada fase de-eskalasi. Realitasnya, risiko konflik tetap tinggi dan berdampak pada ekonomi global dan pada akhirnya berpotensi menjadi tekanan untuk APBN kita,” lanjutnya.

Dalam konteks tersebut Eddy terus mendorong pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional secara menyeluruh. Menurutnya, ketahanan energi tidak boleh berhenti hanya pada ketersediaan pasokan, tetapi juga upaya mengelola risiko dari disrupsi global dengan mempercepat transisi energi.

“Indonesia harus mempercepat langkah menuju kemandirian energi. Kita memiliki potensi besar dari sumber daya dalam negeri yang harus dioptimalkan, seperti panas bumi, gas alam, dan bioenergi,” jelasnya.

“Dalam banyak kesempatan saya tegaskan bahwa ketahanan energi hari ini sama urgensinya dengan ketahanan nasional. Krisis berkepanjangan di Selat Hormuz menegaskan bahwa upaya mempercepat kemandirian energi dari sumber-sumber dalam negeri tak bisa ditunda lagi,” tegas Eddy.

Anggota Komisi XII DPR RI ini menegaskan ketegangan global yang Kembali terjadi saat ini harus dijadikan sebagai titik balik untuk mempercepat reformasi sektor energi nasional.

“Ketahanan energi dan transisi energi harus berjalan beriringan. Kita perlu membangun sistem energi berkelanjutan sekaligus juga tahan menghadapi gejolak geopolitik global,” tambahnya.

“Krisis global sudah seharusnya menjadi alarm bagi kita untuk berbenah dan mempercepat langkah strategis mewujudkan kemandirian energi,” pungkasnya.

TERKINI
KPK Selesaikan Laporan Amplop Raja Juli, Penyidikan Kasus Tetap Jalan Bahaya Asap Kebakaran Hutan, Bisa Rusak Paru-paru, Jantung hingga Otak Ternyata Ini Alasan Ada Perebutan Peringkat Tiga Piala Dunia Mentrans Instruksikan Telusuri Tumpang Tindih Lahan Transmigrasi-HGU Sawit