Loloan, Ambenan Ijogading, dan Wajah Lain Pulau Dewata

Rabu, 15/07/2026 20:17 WIB

Jembrana, Jurnas.com - Pariwisata dan budaya selama ini menjadi daya tarik nomor satu Pulau Bali bagi wisatawan domestik hingga mancanegara. Garis pantai dengan hamparan pasir putih eksotis dan keelokan gradasi lautnya tak pernah gagal memanjakan mata.

Namun, wajah Bali bukan hanya Pantai Kuta hingga Melasti, atau Ubud hingga Kintamani. Sisi lain yang menarik justru terus bersemi di Jembrana, bagian barat Pulau Dewata yang selama ini jarang menjadi pilihan dalam daftar bucket list destinasi.

Kampung Loloan, yang bersisian dengan lengangnya pusat administrasi namun menciptakan hingar-bingar unik, merupakan salah satu rumah bagi populasi Muslim di Kabupaten Jembrana. Di atas kawasan seluas 80 hektar inilah terjadi percampuran budaya Bali, Melayu, dan Bugis.

Memasuki kampung ini, siap-siap untuk dimanjakan dengan deretan rumah panggung khas Bugis beserta beraneka ragam kuliner lokal tak biasa. Sebut saja, Nasi Plecing, Nasi Lemak, dan Lontong Pesor yang melegenda. Dengan harga sangat terjangkau mulai dari Rp8.000, seporsi Nasi Plecing cukup untuk menuntaskan perut keroncongan.

Akan tetapi, meski kental dengan corak dan budaya Bugis, keunikan lainnya muncul pada bahasa yang digunakan oleh warga lokal, yakni bahasa Melayu Loloan yang justru lahir dari pertemuan tiga budaya.

Selain didominasi bahasa Melayu yang memang lazim dipakai di Sumatra dan Malaysia, tidak sedikit pula kosa kata Melayu Loloan diserap dari bahasa Bali dan bahasa Bugis, namun dengan aksen dan langgam yang khas. Keunikan ini lalu dipadukan dengan tradisi keislaman yang kuat, bak sedang disuguhi wajah Bali yang jauh berbeda.

Bagaimanapun, Kampung Loloan tak hanya ramah untuk wisatawan yang tertarik dengan hasil akulturasi budaya dan kuliner. Loloan Timur dan Loloan Barat yang dipisahkan aliran Sungai Ijogading juga menjadi salah satu destinasi religi utama berkat kehadiran tiga makam ulama terdahulu yang disebut-sebut membawa Islam masuk ke Jembrana.

Ada dua opsi bagi wisatawan yang tertarik menjajal Kampung Loloan. Mereka yang datang ke Bali melalui jalur darat, Kampung Loloan berjarak 34 kilometer dari Pelabuhan Gilimanuk dengan waktu tempuh kurang dari satu jam. Sementara jika ditempuh dari Kota Denpasar, memakan waktu tempuh empat jam dengan jarak 106 kilometer dari Bandara Internasional Ngurah Rai.

Loloan dan Upaya Pemajuan Kebudayaan

Pemajuan kebudayaan menjadi topik utama dalam diskusi bertajuk `Panggung Budaya` yang diselenggarakan di Ambenan Ijogading, Loloan Timur, Jembrana, pada Minggu (12/7) lalu. Berlangsung pada 11-12 Juli 2026, Panggung Budaya menjadi wadah ekspresi kebudayaan yang menampilkan aneka kesenian, kuliner, hingga tradisi lokal.

Dibuka oleh penampilan Seni Burdah, Panggung Budaya turut diisi oleh Palang pintu dan Pantun, Pencak Silat, Tari Awik, Tari Mahaguru, dan Ambur Salim, diskusi budaya yang melibatkan sekitar 100 perwakilan remaja Muslim se-Kabupaten Jembrana, sebelum ditutup oleh drama komedi teater Sanggar Pilot.

Ketua Pelaksana Panggung Budaya, Muztahidin, mengatakan bahwa kegiatan yang didukung oleh Dana Indonesiana 2026 dan Kementerian Kebudayaan ini merupakan respons atas kebutuhan masyarakat atas ruang publik yang inklusif, dan berakar pada kearifan lokal.

"Dalam konteks kebijakan pemajuan kebudayaan, kegiatan ini sejalan dengan upaya pelestarian dan pengembangan budaya melalui infrastruktur sosial dan fisik yang berkelanjutan," kata Muztahidin.

Pemilihan tempat di Ambenan Ijogading yang terletak di tepi Sungai ijogading diharapkan menjadi pemantik agar ruang diskusi, ekspresi seni, dan kebudayaan tidak hanya tumbuh di ruang-ruang formal, melainkan pemanfaatan ruang publik di sekitar masyarakat.

Anggota DPRD Fraksi PPP Kabupaten Jembrana, Hasbil Maani, yang hadir dalam kesempatan tersebut menekankan bahwa kebudayaan di Kampung Loloan dituntut bertahan, beradatpasi, dan bertransformasi. Hal ini dibutuhkan di tengah derasnya perkembangan zaman.

"Seperti bagaimana orang Melayu suka melantunkan lagu, cerita, maupun syair. Nilainya ada. Kita sepakat bahwa mempertahankan nilai dan falsafah penting, namun adaptasi dengan sekitar juga diperlukan," ujar Hasbil.

Hal senada disampaikan anggota DPRD Fraksi PKB Kabupaten Jembrana, M. Yunus. Menurut dia, kebudayaan Melayu Loloan mesti disokong dengan komitmen pemerintah daerah agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

"Kehadiran pemerintah adalah untuk mempertahankan budaya. Sebab, salah satu fungsi pemangku jabatan ialah menjaga kelestarian budaya," kata dia.

TERKINI
Pelabuhan Patimban Siap Jadi Gerbang Logistik dan Industri Indonesia PBB: Krisis Sumber Daya Picu Perang Saudara di Sudan Loloan, Ambenan Ijogading, dan Wajah Lain Pulau Dewata Awal Safar 1448 H, LF PBNU: Hilal Sudah Ada di Atas Ufuk