Selasa, 14/07/2026 09:35 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Dalam proses tumbuh kembang anak, rumah adalah sekolah pertama dan orang tua adalah guru utamanya.
Setiap kata yang keluar dari lisan ayah dan ibu bukan sekadar hiasan telinga bagi anak, melainkan batu bata yang menyusun konsep diri, kepercayaan diri, dan kesehatan mental mereka hingga dewasa.
Banyak orang tua yang kerap melontarkan kalimat tertentu secara spontan saat sedang lelah, kesal, atau menghadapi perilaku anak yang menguras emosi.
Sayangnya, kalimat yang dianggap sepele atau sekadar luapan emosi sesaat oleh orang tua bisa tertanam sebagai luka emosional yang mendalam (core memory) bagi anak.
Tanda Seseorang Memiliki Kecerdasan Emosional Rendah
Bunda, Usia Ini Jadi Fase Krusial Tumbuh Kembang Anak
Bunda, Begini 5 Tips Cegah Anak Kecanduan Game Online
Mengenali kalimat-kalimat yang berpotensi merusak psikologis anak adalah langkah awal untuk membangun komunikasi yang lebih sehat dan suportif di dalam keluarga.
Berikut ini sembilan kalimat yang sebaiknya dihindari oleh orang tua beserta alasan psikologisnya: 1. "Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu/temanmu?"Membanding-bandingkan anak dengan orang lain, termasuk saudara kandungnya sendiri, tidak akan memotivasi mereka untuk menjadi lebih baik.
Kalimat ini justru menanamkan rasa rendah diri, memicu kebencian terhadap orang lain yang dibanding-bandingkan, dan membuat anak merasa tidak pernah cukup berharga di mata orang tuanya.
2. "Begitu saja tidak bisa, dasar malas/bodoh!"Memberikan label negatif (labeling) pada anak saat mereka gagal melakukan sesuatu sangat berbahaya bagi pembentukan identitas diri mereka. Anak-anak cenderung mempercayai apa yang dikatakan orang tua mereka.
Jika terus-menerus disebut malas atau bodoh, otak mereka akan memprosesnya sebagai kebenaran dan mereka akan berhenti berusaha.
3. "Nanti kalau kamu nakal, Ibu tinggal/kasih ke orang lain!"Kalimat ancaman pengabaian (abandonment threat) seperti ini memicu rasa takut yang luar biasa pada anak. Anak akan kehilangan rasa aman (insecure attachment) karena merasa kasih sayang orang tuanya bersyarat.
Dampak jangka panjangnya, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang selalu cemas dan takut ditolak.
4. "Jangan menangis, begitu saja kok cengeng!"Menangis adalah cara alami anak untuk mengekspresikan emosi, baik rasa takut, sedih, maupun frustrasi. Ketika orang tua melarang anak menangis dan melabelinya cengeng, orang tua sedang melakukan invalidasi emosi.
Anak akan belajar menekan emosinya, yang di kemudian hari bisa memicu ledakan kemarahan atau kesulitan memahami perasaan diri sendiri.
5. "Kamu itu selalu saja bikin masalah!"Menggunakan kata-kata mutlak seperti "selalu" atau "tidak pernah" saat menegur anak membuat mereka merasa terjebak dalam penilaian buruk.
Kalimat ini menutup ruang bagi anak untuk memperbaiki diri karena mereka merasa semua hal baik yang mereka lakukan sebelumnya dianggap tidak ada artinya sama sekali.
6. "Dengar ya, Ibu/Ayah capek kerja itu semua demi kamu!"Meskipun niat orang tua adalah mengingatkan anak untuk bersyukur, melontarkan kalimat ini saat sedang emosi justru membebankan rasa bersalah yang berat pada pundak anak.
Anak akan merasa dirinya adalah beban hidup bagi orang tuanya dan memicu stres emosional yang tidak seharusnya mereka tanggung di usia muda.
7. "Kamu tahu apa, anak kecil nggak usah ikut campur!"Kalimat ini secara langsung memotong ruang komunikasi dan membungkam rasa ingin tahu anak.
Jika sering diucapkan, anak akan merasa pendapatnya tidak pernah dihargai dan mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang pasif, penakut, serta ragu-ragu dalam mengutarakan isi pikirannya di lingkungan sosial.
8. "Sudah, biar Ibu saja yang kerjakan, kamu kelamaan!"Ketika anak sedang belajar melakukan sesuatu—seperti memakai sepatu atau merapikan mainan—mereka memang membutuhkan waktu lebih lama.
Mengambil alih tugas tersebut dengan nada tidak sabar akan merampas kesempatan anak untuk belajar mandiri dan melatih kemampuan motorik serta pemecahan masalah mereka.
9. "Ibu menyesal melahirkan/membesarkan kamu!"Ini adalah salah satu kalimat paling destruktif yang bisa dikatakan seorang orang tua kepada anaknya.
Kalimat ini secara instan meruntuhkan seluruh fondasi harga diri anak dan membuat mereka mempertanyakan arti eksistensi hidup mereka sendiri. Luka dari kata-kata ini bisa bertahan hingga anak tumbuh dewasa dan memicu trauma psikologis yang mendalam.